“Selalu dengarkan suara hati agar kita tidak asing dengan diri sendiri.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Sungguh, apakah kita sungguh mengasihi Allah dengan segenap hati?
Tiba-tiba pertanyaan itu menggedor pintu kesadaranku membuat saya terhenyak, dan dada ini menyesak sakit.
Jika saya sungguh mengasihi Allah berarti saya harus memerdekakan hati ini dari iri hati, dendam, benci, dan hal-hal negatif lainnya.
Faktanya saya cemburu, tepatnya iri hati, karena anak saya lebih peduli, perhatian, dan selalu menomor-satukan keluarga pacarnya, ketimbang keluarganya sendiri!
Bagaimana tidak. Ketika mencari surat-surat penting di lemari dalam kamar anak, tanpa sengaja, saya melihat kwitansi dokter di meja, atas nama pacar anak saya!
Tidak hanya itu, di dalam buku agenda anak saya terselip buku tabungan atas nama pacarnya!
Dada saya berdegup kencang, dan terasa nyeri. Emosi merambati hati. Ternyata, jika selama ini anak saya perhitungan sekali dengan uang, karena dipengaruhi pacarnya, dan kalah!
Mengapa anak lebih percaya pada pacar ketimbang orangtua sendiri? Orangtua mana yang hatinya tidak sakit? Bagaimana, jika bubaran di tengah jalan?
Bagi saya, tidak dipercaya anak itu sakit-sesakitnya. Anak seperti disirep, tidak bisa menolak pacar. Mungkinkah…? Suara-suara sumbang tentang keluarga pacar anak menggerogoti hati.
Sebenarnya saya ingin cerita ke istri, tapi urung. Saya menarik nafas panjang untuk mengendalikan diri. Saya tidak ingin istri tahu dan emosi. Apalagi lalu timbul konflik, hingga berlarut-larut.
Saya berdoa untuk menenangkan jiwa. Kukendalikan suara-suara sumbang yang menggedor-gedor memekakkan telinga hati.
Alangkah bijak, jika saya tidak mengadili anak dengan prasangka buruk dan tendensius. Tapi mencari kebenaran dulu, mengapa anak melakukan semua itu.
Jika anak berbuat salah itu harus diingatkan, tidak untuk disalahkan dan diadili. Tapi ditunjukkan yang benar. Sebagai orangtua kita tidak boleh bosan untuk mengingatkan dan mendoakan demi kebaikan anak. Karena mereka adalah anak kehidupan yang tidak bisa dikekang, tapi bebas merdeka.
Dengan berserah pada Allah, perlahan hati saya jadi tenang. Saya percaya, bahwa Allah senantiasa sertai, bimbing, dan memberikan yang terbaik bagi umat-Nya.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yes 55: 8-9).
Berserah ikhlas tanpa was-was.
…
Mas Redjo

