Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pada mulanya, kita ini hanyalah selembar kertas, entah apa pun warnanya.”
(Amanat Sang Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Masihkah Anda mengingat akan sebuah teori tenar tentang anak manusia dalam tanah edukasi?
Itulah teori, “tabula rasa,” oleh John Locke. Teori klasik ini berpendapat, bahwa โsang anak dilahirkan ibarat selembar kertas kosong, yang membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya.”
Ada pun prinsip dan gagasan esensial dari terori ini, bahwa sang individu yang dilahirkan tanpa memiliki isi mental apa pun yang tertanam di dalamnya, sehingga semua pengetahuan berasal dari persepsi atau pun pengalaman indrawi di kemudian hari.
Kita ini, pada mulanya benar-benar hanya selembar kertas. Kosong tidak berisi. Tak bermakna pula, hanya selembar kertas apa adanya.
Dalam proses perjalanan waktu, kita yang hanya selembar kertas itu, secara perlahan mulai berubah. Artinya, selembar kertas kosong itu mulai dicoret-coret dan diwarnai sesuka hati oleh orang dewasa.
Tentu, di balik itu, yang perlu kita sadari, bahwa seorang anak yang oleh teori tabula rasa, John Locke hanya sebagai selembar kertas kosong itu, tapi telah memiliki potensi bawaan, berupa anugerah dan talenta (kharisma) khusus dari Sang Maha Pencipta.
Lewat tulisan ini, kita diajak untuk menyadari, bahwa sungguh, betapa besar dan sentralnya peran mulia dari para orangtua serta para pendidik di sekolah.
Seorang anak manusia yang masih polos dan imut ini, bagaimana pentingnya kelak dia dibantu dan dibentuk serta dididik oleh orang dewasa.
Maka, anak pada usia nol (0) hingga tujuh (7) tahun, sangatlah vital serta sentral untuk dibentuk dengan baik dan benar oleh orang dewasa yang sungguh bertanggung jawab.
Maka, sungguhlah riskan dan bersalah, jika seorang anak, justru dibentuk secara salah oleh orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.
Anak adalah pemberian Tuhan lewat kedua orangtuanya. Mereka adalah pendidik utama dan pertama. Sedangkan para guru dan pendidik di sekolah adalah pihak kedua yang akan meneruskan pendidikan dari para orangtua.
Akan sangat celaka dan bermasalah, jika ternyata, seorang anak belum dibentuk oleh orangtuanya dalam keluarga.
Maka, para guru di sekolah pun akan kewalahan menangani pendidikan dan pembentukan mental sang anak ini.
Sebaliknya, jika anak telah dibentuk dan dididik dengan sangat baik dari keluarga, namun saat berada di bangku sekolah, justru diabaikan atau tidak dididik dengan baik oleh para guru, maka akan rusaklah pribadi anak itu.
Maka, dalam proses pendidikan dan pembentukan karakter ideal seorang anak, dibutuhkan proses pendidikan yang berkesinambungan.
Proses pendidikan dan pembinaan yang salah kaprah serta salah arah, hanya akan menjerumuskan sang anak dalam kebingungan (ambivalen).
Anak yang sedang dalam kebingungan, biasanya akan sangat sukar untuk diarahkan dan dibentuk. Karena dia belum memiliki bekal dasar yang baik dan benar.
Sejatinya, lewat prinsip dasar dari teori tabula rasa, justru peran orangtua dan kaum dewasa mutlak diperlukan.
Sesungguhnya keberadaan sang anak yang hanyalah selembar kertas kosong itu perlu dibentuk dan dididik secara profesional oleh orang dewasa yang profesional pula.
Mengapa di dalam hidup ini, kita justru sering menjumpai anak-anak yang bermasalah?
Lewat pertanyaan retoris ini, kita perlu menyadari, bahwa selaku orang dewasa kita telah gagal mendidik dan membentuk karakter dasar anak.
Anak itu laksana sebuah bejana tanah liat. Dia akan dibentuk dan dipoles sesuai kehendak sang seniman tanah liat itu.
Anak-anak kita adalah ekspresi dari jatidiri kita selaku orang dewasa! Ingat, peri bahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya!
Kediri, 6 Juni 2024

