Simply da Flores
…
Hari ini viral di media sosial
sebuah perayaan iman di kampungku
Ada pesta Tubuh dan Darah Kristus
yang serahkan diri sengsara dan wafat di salib
“Ambilah dan makanlah,
inilah tubuh-Ku yang menjadi santapan rohani dan sumber keselamatan abadi
Ambilah dan minumlah
inilah darah-Ku,
darah perjanjian baru dan kekal
untuk menghapus dosa dunia
Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Daku”
Lalu,
dalam ritual penerimaan Komunitas pertama
Anak-anak diantar orangtua ke gereja
menerima hosti dan anggur
sakramen tubuh darah Kristus
Menarik dan istimewanya
sebagai ungkapan terima kasih dan syukur
Persembahan Tubuh Darah Kristus
dibalas dengan persembahan aneka bunga
persembahan makanan dari hasil kebun
persembahan uang hasil kerja
persembahan ayam dan babi hidup
dibawa umat ke altar gereja
Sebuah pengalaman rohani dinyatakan
Di tempat lain ada yang diam
sujud hening tapa samadhi
persembahkan jiwa raga pribadi
Menyepi di tempat sunyi sakral
dengan dupa harum semerbak
dengan sesajen khas tertata
dengan doa mantra bisik sahaja
Sebuah relasi istimewa pribadi
menyatukan jiwa raga dengan Sang Khalik
merajut harmoni damai sejati
demi makna harkat martabat hakiki
Entah mengikuti warisan tradisi
Entah dengan pilihan diri pribadi
Entah dipandu keyakinan leluhur
Atau sebuah bentuk yoga dan meditasi
Ada yang dalam kamar pribadi
di tengah malam sunyi sepi
berjudul penuh kepasrahan diri
Membaca ayat-ayat suci Alkitabnya
Mendaraskan mantra sakral agamanya
Mungkin hanya kerlip lilin menemani
atau bias redup cahaya bintang
sebagai penerang langkah iman
berziarah ke pelataran Sang Maha Agung
tempat segala suka duka diletakkan
tujuan semua doa dipanjatkan
Atas dasar iman dan keyakinan
Dia Sang Maha Tahu dan Maha Melihat
Seorang pemimpin agama berkreasi
nyatakan iman dan wartakan kasih
Membasuh kaki para napi perempuan
saat ritual perayaan Kamis Putih
mengenang sejarah amanat Kasih Ilahi
Padahal
sejarah dan tradisinya berbeda
kejadiannya justru kaki para murid dibasuh
semua murid rasulnya laki-laki
Dan
pengalaman itu terjadi di zaman milenial
setelah 2000 tahun berlalu
“Kasih sejati melampaui sejarah
Cinta Ilahi tak bedakan jenis kelamin
Karya Keselamatan Allah untuk semua
hanya syaratnya iman dan cinta tulus”
Dalam khasanah ritual adat budaya
ada aneka bentuk sesajen persembahan
ada pembagian peran pelaku ritual
ada tempat sakral ritual sesaji sembah
Dan
ketika diukir dengan jumlah uang
sungguh besar nilai ekonomisnya
Tetapi
demi kepentingan spiritual harkat hakiki
ukurannya tidak soal untung rugi
bukan juga soal gengsi dan ekonomi
Namun
ada pengalaman dan kepentingan sakral
yang mengikat totalitas diri pribadi
dengan sesama saudara yang hidup
dengan para arwah keluarga suku
dengan kekuatan gaib penjaga alam
dengan Sang Empunya alam semesta
“Perayaan spiritual tak dapat diukur secara ekonomi, selera dan wujud material saja
Ada ikatan hakiki rohani jasmani
Ada kesatuan fakta dan misteri”
Beberapa kali lintasi sudut Metropolitan
Kutemui aneka sosok wajah lara terlunta
Gelandangan renta tergeletak di emperan
Pemulung kurus dekil tidur di trotoar
Pengembara galau bermata sayu
duduk pasrah di halte dan pojok jalanan
Dan
Angin merekam doa ritual mereka
“Ya, Sang Pemilik duka lara
inilah kami apa adanya ciptaan-Mu
Ya, Sang Pencipta Maha Misteri
jika bisa usul tentang kelahiran
pasti kami tak mau terlahir menderita
Ya, Sang Maha Kuasa
terjadilah menurut kehendak-Mu
Terima kasih atas pengalaman hidup ini”
…

