Simply da Flores
…
Seorang teman mengirim gambar
Tuhan sedang tidur di awan
Di atas kepalanya tertulis
“Tuhan terpaksa tidur di awan”
Di bawah gambar tertulis kalimat
“Tak adakah tempat di hati manusia”
Dan
dia mengirim satu pertanyaan
agar saya mengomentari gambar itu
“Apakah pendapatmu tentang Tuhan?”
Dan masih beberapa pertanyaan lain
sehubungan dengan gambar kirimannya
Saya membalas pesan dan menjawab
“Apakah perlu berpendapat tentang Tuhan dan gambar itu
Jika Tuhan pemilik seluruh semesta
apakah perlu persoalkan di mana tidurnya
Jika manusia pun miliknya
apakah perlu mengatur tempat bagi-Nya
Jika Dia adalah kepala dan semua manusia anggota tubuh
Haruskah mencari di mana Tuhan berada
Jika Dia pokok anggur
dan semua kita ranting-ranting-Nya
masih ragukah kita akan relasi dengan-Nya
Jika Dia Raja Semesta Alam
dan kita bagian kecil dari isi semesta
kita bernafas serta hidup dalam kasih-Nya
Apakah masih cemas akan persatuan mengalami kehadiran kuasa-Nya?
Hemat saya gambar itu kreatif dan inovatif
Tuhan bisa tidur di mana saja Sesuka-Nya
Rupanya temanku masih punya pertanyaan lain
“Mengapa Tuhan tidak tinggal di istana mewah
Mengapa Tuhan tidak mendiami gereja megah
Mengapa Tuhan tidak di ruang biara suci
Mengapa Tuhan tidak di taman doa sakral”
Dan
saya merasa tertantang untuk menjawab
dengan membuat pertanyaan juga
“Apakah pikiran Tuhan sama dengan manusia
Layakkah selera dan kemauan kita dipaksakan untuk diikuti Tuhan
Bukankah Tuhan untuk diimani dan dituruti perintah hukum kasih-Nya
Mengapa banyak yang cenderung mengatur Tuhan, agar memenuhi selera manusia”
Saya teringat beberapa teks Injil
yang menulis perkataan Tuhan
“Manusia mempunyai rumah tinggal
Burung mempunyai sarang
Serigala mempunyai liangnya
Tetapi Anak Manusia, Tuhan, tidak mempunyai tempat untuk meletakkan alas kepala-Nya”
Mungkin Tuhan terlalu besar ukurannya untuk mendiami tempat manusia dan makhluk lain
Ada tertulis juga ayat lain
“Akulah terang dunia
Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan
Akulah sumber air kehidupan
Akulah roti hidup,
Tubuh-Ku adalah makanan
Darah-Ku adalah minuman
Akulah Alfa dan Omega
Akulah Raja Semata Alam”
Masih perlukah mempertanyakan Tuhan dengan ukuran dan selera manusia?
Ada juga tertulis Sabda Tuhan
“Ibu-Ku, Saudara dan Saudari-Ku
adalah mereka yang mendengar dan melaksanakan sabda-Ku
Dan
Apa pun yang kalian lakukan kepada saudara dan saudariku yang paling hina dina ini
Kalian lakukan terhadap Aku”
Saudara-saudari yang hina dina itu adalah
mereka yang lapar dan haus
mereka yang miskin dan gelandangan
mereka yang sedang lara menderita dan sakit
mereka yang di dalam penjara
mereka yang tidak punya pakaian dan sendirian
mereka yang tidak punya tempat tinggal
mereka yang dikucilkan dan tersingkirkan
mereka yang dijajah, tertindas korban aneka bentuk kejahatan
Setelah mengirim balasan di atas
temanku tidak lagi bertanya
dan meminta komentarku tentang gambarnya
Apakah dia sudahh puas dan mengerti
ataukah masih menyusun pertanyaan lain
Lalu dalam jedah waktu berjalan
saya berpikir dan meyakini, bahwa
Banyak tempat ibadah mewah
mungkin jarang Tuhan berkunjung
apalagi mau tidur di sana
Juga di biara megah penuh kenyamanan
mungkin Tuhan agak sungkan dan tidak terbiasa sejak lahir-Nya
Karena kisah masa hidup-Nya
Tuhan terlahir di tempat sangat sederhana
Tuhan tinggal di rumah tukang kayu
Tuhan mengembara dan tidur di alam bebas
Tuhan suka menyepi dan berdoa di tempat sunyi
Saya juga berpikir, bahwa
Tuhan lebih banyak waktu
hidup bersama mereka yang hina dina
dan tidur bangun di tempat kumuh
Tuhan sahabat para pendosa
dan selalu mengunjungi tempat mereka
Agar bisa melakukan revolusi mental
dan revolusi iman bagi mereka
Dan
Tuhan pasti tidak datang untuk memuaskan selera dan pikiran rencana kita manusia
Tuhan punya agenda dan rencana sendiri
sangat misteri dan revolusioner
Tuhan punya skenario istimewa
“Aku datang bukan untuk membawa damai tetapi pedang
Akulah gembala yang baik dan kamulah domba-domba-Ku
Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah kawanan serigala
Aku memikul salib dan wafat di salib
Maka pikullah salibmu dan ikutilah Aku
Sebab
barangsiapa yang hendak menjadi yang terkemuka
hendaklah ia menjadi hamba
Barangsiapa yang mau menjadi yang terbesar
hendaklah ia menjadi yang terkecil dan pelayan”
…

