| Red-Joss.com | Dingin, karena kompleks kami pagi ini diguyur hujan yang cukup deras, tapi yang justru menyulut lagi ketidak-pahaman. Pengurus memberi izin pemilik tanah di sebelah rumah (kompleks) menjual sapi dan kambing (korban).
Trauma masa lalu muncul lagi dengan bertiupnya aroma tidak sedap dari kandang sapi ini. Pernah Bapakku, saat saya kecil, menjadikan rumah lama (posisi di depan rumah baru) untuk kandang sapi. Aroma busuk makin menyengat justru, ketika hujan turun seperti pagi ini.
Saat kubertanya: “mengapa memberi izin mendirikan kandang sapi dalam kompleks?”
Seorang penasihat: “ya, kita harus toleran, toh hanya sementara.”
Jawabannya membuat saya justru jatuh kasihan, memakai kata toleransi dengan tidak tepat dan meruwetkan.
Dari refleksi saya, toleransi adalah kesanggupan seseorang untuk ikut memikul dampak dari perbuatan orang lain atau kelompok demi suatu tujuan yang lebih tinggi. Misal ‘kerukunan’ warga.
Dengan pengalaman ini, saya sedikit lebih bisa ‘me-makna-i’, mengapa dulu Yesus marah sekali kepada orang-orang yang berjualan di Bait Allah.
Saya sebetulnya juga marah, karena kandang itu dekat sekali dengan rumah saya, berbatas gang saja. Tapi, karena saya ingat, bahwa setiap orang bisa bersalah (salah mengerti atau salah dalam ambil keputusan), maka saya ambil sikap tidak menghakimi.
Saya diingatkan oleh sikap Yesus terhadap Maria Magdalena, yang ketangkap basah dan dibawa pada-Nya: “Aku pun tidak menghukummu tapi jangan berdosa lagi.” Jelas Yesus tidak mentolerer aksi Maria Magdalena, tapi memahami kelemahan dia dan memberi ruang untuk bertobat.
Karena saya pun bisa salah, maka dalam konteks ini toleransi adalah ‘tidak menghakimi’ kesalahan pengurus dalam memberi izin, tapi tetap tidak toleran dagang sapi di kompleks.
Salam sehat. Lahir dan batin.
…
Jlitheng

