“Ada anggapan, bahwa memaafkan dan mengampuni musuh itu berat dan sulit.”
…
| Red-Joss.com | Benar. Semua orang juga mengakui fakta itu. Tapi tidak melakukannya, karena mereka sekadar teori dan di angan-angan semata.
Memberi maaf, mengampuni, dan mengasihi musuh itu harus dihidupi dalam keseharian, supaya mendarah daging dan menyatu dengan nafas kita.
Bagaimana mungkin, kita berdoa agar dosa ini diampuni Allah, tapi kita tidak mau memaafkan dan mengasihi sesama.
Doa itu jadi nyata, ketika kita mau mewujudkan dalam tindakan nyata, dan Allah yang menyempurnakannya.
Sederhana, tapi dampaknya amat positif dan luar biasa.
Coba rasakan beban di hati ini, ketika sulit memaafkan orang yang bersalah pada kita. Tidak sekadar berbeban berat, tapi jiwa ini tersiksa dan tiada damai. Bahkan hidup kita jauh dari bahagia. Apakah beban jiwa ini mau dibawa hingga ke liang lahat?
Sesungguhnya, jiwa ini tidak hanya tersiksa dan menderita, tapi kita juga sulit untuk segera menghadap pada Allah. Karena ada tertulis, “jika ingin menghadap pada-Ku, hendaknya kau berdamai lebih dulu dengan saudaramu” (Mat 5: 24).
Intinya, kita harus berani melepas kelekatan jiwa ini dari materi, sakit hati, dendam, dan hal keduniawian lainnya. Kita berdamai dengan diri sendiri untuk melepas ikhlas semua itu. Karena kita dari tiada menjadi ada, lalu kembali ke tiada.
Tidak ada kata terlambat. Karena hidup ini adalah kesempatan yang dianugerahkan Allah agar tidak kita sia-siakan, tapi agar dimaknai.
Ketika kita menghidupi “Doa Bapa Kami” dalam keseharian, maka kita akan temukan hidup sejati.
Dengan memahami, kita dipahami. Dengan mencintai, kita dicintai. Dengan mengasihi, kita dikasihi. Dengan mengampuni, kita diampuni.
Karena Allah adalah “Maha Cinta, Maha Kasih, dan Murah Hati” agar kita hidup saling menghasihi dan bahagia.
Kita mewujudkan hidup bahagia di dunia ini dengan saling mengasihi. Bahagia di dunia, bahagia di surga.
Berkah Dalem Gusti,
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

