“Engkau setia dan janji-Mu pasti, ya, Tuhan, maka didiklah aku untuk setia pada-Mu.”
…
| Red-Joss.com | Setia, kesetiaan itu harus dihidupi dalam keseharian. Kesetiaan itu dimulai tidak dengan hal-hal besar dan hebat. Tapi dengan perbuatan yang kecil dan sederhana, bahkan dimulai dari lingkup yang terkecil, yaitu keluarga.
Sebagai seorang suami dan Ayah dari ketiga anak, saya memaknai kesetiaan itu dengan memenuhi kewajiban dan kebutuhan pokok yang utama pada keluarga. Misal ‘sandang, pangan, dan papan’. Juga sekolah anak, paling tidak hingga mereka tamat SMA.
Karena ingin jadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab, saya berperan aktif dan berusaha untuk menenuhi kebutuhan dasar mereka. Saya berusaha menjalani peran itu yang didasari kasih agar keluarga bahagia.
Karena didasari kasih, maka sejak menikah, saya berkomitmen untuk mendulukan kepentingan keluarga di atas kepentingan sendiri. Dengan sadar sesadarnya, saya berusaha meninggalkan kesenangan sendiri.
Begitu pula saat terjadi gesekan, baik dengan istri dan anak-anak. Kunci utama untuk mengatasi hal itu adalah belajar mendengarkan dan bertukar pikiran untuk mencari titik temu. Saya berusaha untuk mengecilkan persoalan yang besar dan masalah yang kecil itu dibuang, alias ditiadakan.
Saya berusaha untuk menghindari konflik, karena konflik menjauhkan dan memisahkan dari orang-orang yang dikasihi. Sehingga, setiap kali terjadi gesekan atau konflik harus segera diatasi dengan bijaksana. Berani meminta maaf untuk saling memaafkan dan mengampuni, karena saling mengasihi.
Dengan mengalah, memahami, sabar, dan ikhlas hati adalah kunci utama agar kita sukses mengasihi keluarga.
Mengalah itu tidak berarti kalah, tapi kita belajar untuk mendulukan kepentingan orang lain, dan rendah hati.
Memahami, dengan memahami orang lain adalah semangat dasar untuk berubah dan perbaiki diri sendiri. Kita tidak bisa mengubah orang lain, tapi berubah sendiri untuk hidup baik, dan makin baik lagi agar hidup kita berkenan bagi Tuhan.
Sabar, dengan sabar sesabarnya, kita mengalahkan ego sendiri, sekaligus memerdekakan jiwa ini dari iri hati, benci, dan dendam. Karena sabar itu tanpa alasan dan tanpa batas.
Ikhlas hati, karena sesungguhnya hidup itu untuk memberi. “Urip kuwi urup.” Hidup ini milik Allah agar kita setia pada-Nya.
Ikhlas hati, sumbernya dari kasih Ilahi.
…
Mas Redjo

