“One word you can never enough is, Thanks.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Kopi, satu kata yang membuat orang jadi melek, bersemangat. Bahkan jutaan orang di negeri ini menyukainya. Untuk mereka yang pencinta kopi pasti tahu, bagaimana memperlakukan dan membuat kopi itu jadi nikmat.
Meski pahit, jika dicampur gula atau susu dengan cita rasa yang pas menghasilkan kopi yang nikmat. Hari ini sembari menikmati secangkir kopi, diiringi alunan lagu dengan lirik “Secangkit kopi ku seruput, secangkir masalah ku hadapi” kita belajar dari kopi.
Secangkir minuman kopi murni dengan komposisi bubuk kopi 3 sendok kecil, jika diseduh dengan air panas pasti terasa pahit. Coba tambahkan satu sendok kecil gula. Pasti masih terasa pahit juga. Tambahkan lagi satu sendok kecil gula, rasanya pasti antara manis dan pahit, tapi pahit masih dominan. Tambahkan lagi satu sendok kecil gula. Rasa manis dan pahit menjadi serasi dan sensasi kenikmatan mulai terasa.
Kopi terlalu manis tidaklah nikmat, terlalu pahit juga kurang nikmat. Begitulah kenikmatan hidup.
Jika hidup terlalu banyak kepahitan itu terasa berat dan tidak enak. Jika takaran kehidupan itu pas, maka cukup terasa indah. Jadi, beranilah untuk mengatakan cukup, karena cukup adalah keutamaan.
Cukup itu menangkal keserakahan. Faktanya banyak orang ingin lebih: gaji, pendapatan, dan kekayaan. Kita juga ingin memiliki banyak kendaraan, simpanan, dan deposito.
Faktanya, semua yang lebih itu tidak baik. Coba lihat, orang yang banyak makan itu perutnya jadi gendut dan buncit. Orang yang banyak marah jadi darah tinggi dan bahaya stroke. Jadi, katakan pada diri sendiri: cukup.
Karena cukup itu membuat kita bahagia dan bersukacita. Takaran dan keutamaan cukup menjadikan kita tidak banyak mengeluh, tapi mudah menerima dengan sukacita.
Merasa cukup, karena kita mudah bersyukur. Keutamaan cukup akan merubah keluhan dan komplainan itu jadi syukur. Merubah protes jadi mau berproses.
Nikmati hidup ini penuh syukur dan berterima kasih atas anugerah Allah.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

