Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebatang pohon dikenal dari buahnya.”
(Peri Bahasa: Didaktika Hidup Manusia)
…
| Red-Joss.com | Filosofi dari sebatang pohon. Tulisan yang bersifat analogi ini dilatari oleh filosofi dan didaktika hidup manusia.
Analogi Hidup serta Kehidupan
Sang manusia itu hidup, bertumbuh dan berkembang justru laksana hidup serta perkembangan sebatang pohon.
“Sebatang pohon itu dikenal dari keberadaan buah-buahnya!” Demikian pula eksistensi dari kehadiran seorang anak manusia. Dia adalah ekspresi dan jelmaan dari keberadaan orangtua dan keluarganya.
Keluarga yang Kokoh Berakar adalah Keluarga Ideal
Jika sebatang pohon terdiri dari bibit unggul, dirawat, dan dipelihara dengan baik, maka pohon itu pun akan menghasilkan buah.
Sebatang pohon ideal terdiri dari akar, batang, dahan, reranting, dedaun, berbunga, dan kelak akan berbuat kebat.
Akar serta batangnya akan tertanam di dalam empuk tanah. Demikian juga seorang anak manusia. Dia hadir dab hidup dari serta di dalam sebuah keluarga ideal.
Sekolah Kehidupan
Seirama proses berjalannya sang waktu kronologis, maka balita itu akan bertumbuh menjadi remaja, pemuda, dan dewasa.
Sebagai remaja dan pemuda, dia akan mengalami proses pertumbuhan serta perkembangan secara jatuh dan bangun.
Kelak sebagai orang dewasa, dia akan memiliki sikap dan jatidiri personal yang unik.
Puncaknya, tatkala dia mulai berkarya dan membentuk sebuah keluarga.
Anak-anaknya adalah buah kasih yang kelak akan mengambil lagi peran dari orangtuanya. Itulah buah-buah dari sebatang pohon keluarga ideal.
Sesungguhnya itulah filosofi hidup dari sebatang pohon yang adalah simbolisasi dari proses hidup sang manusia.
Jika demikian, maka sungguh benar, bahwa buah yang jatuh itu tidak jauh dari pohonnya!
…
Wolotopo, Ende,ย 28ย Meiย 2024

