| Red-Joss.com | Obrolan ringan kemarin sore dengan teman lingkungan. Berawal dengan ‘khabar tidak jadi misa’ Wilayah, karena Romo berhalangan. Obrolan dilanjut tentang topik ‘perutusan’.
“Karena kita ini tidak pernah membaptis, apakah kita termasuk murid yang diutus?” tanya teman.
Apa arti ‘perutusan’ bagi kita sebagai umat awam?
Kita ‘diutus’ bukan karena membaptis, melainkan karena dibaptis. Diutus untuk menghidupi ‘sesuatu’ yang lebih besar daripada diri kita, dari kenyamanan dan keamanan kita.
Menghidupi perutusan itu sangat tidak mudah, jika kita tidak mempunyai ‘sesuatu’ itu. Sebaliknya akan sangat mudah, jika kita mempunyai ‘sesuatu’ itu.
Jika kita mempunyai anak yang berharga lebih daripada nyawa kita sendiri. Maka, ketika dia terancam ditabrak bus, kita tidak akan pikir panjang, langsung lompat ke depan bus demi anak itu. Sebaliknya sangat sulit melakukan hal tersebut ketika yang terancam adalah seseorang yang tidak kita ketahui, tidak kita kenal, dan yang tidak kita hargai melebihi diri sendiri.
Ini paradoks hidup sebagai murid Kristus. Antara yang kita imani dan hidupi, sering tak sejalan, bahkan tak jarang berseberang jalan. Hubungan tidak erat dengan-Nya akan membuat kita salah kira, merasa sudah menjalankan perutusan-Nya, namun masih tergiring ke mencari prestasi, walaupun dalam rupa rohani. Bahkan tak jarang berkesan adanya kompetisi.
Jika relasi kita dengan Tuhan lebih dalam dengan orang yang kita cintai, kita tak akan merasa terlalu sibuk untuk memikirkan-Nya atau peduli dengan umat kecintaan-Nya. Jika kita sungguh tahu begitu berharganya Dia dalam hidup kita, … mutu perutusan pasti mewarnai semua liku dan laku hidup kita, dan sebaliknya. Akan selalu muncul halangan dan alasan, jika tak ada ‘sesuatu’ yang istimewa dalam relasi dengan-Nya.
Itulah ‘perutusan’ – memilih hidup untuk ‘sesuatu’ yang lebih besar daripada diri kita, dan kita perlu itu, tanpa itu hidup kita tidak ada sukacita.
Duc in altum. Bertolaklah ke relasi lebih dalam dengan Sang Pencipta, supaya yang tertangkap bukan hanya yang biasa-biasa saja, dan kita tidak akan lari lagi ke sana kemari, (seperti Martha) dari satu aksi ke aksi yang lain, dari satu prestasi rohani yang satu ke prestasi yang lain, sementara anaknya yang dalam bahaya ditabrak bus terabaikan saja.
Obrolan senja kami hentikan, karena nyamuk tak peduli, bahwa kami sedang ‘duc in altum’.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

