Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Itulah para Budha, Avatar, Kristus dan Pengemban rohani yang telah mencapai pencerahan. Karena itu, tak heran, kalau kata-kata mereka penuh paradoks.”
(Anand Krishna)
…
| Red-Joss.com | Tulisan refleksi ini bertolak dari tulisan dan gagasan pemikiran Anand Krishna, lewat bukunya yang berjudul “Sabda Pencerahan.” Sebuah ulasan khotbah Yesus di atas bukit bagi orang modern.
Siapa Sejatinya Kita?
Selama ini kita semua, ternyata hidup dan meyakini sebuah ajaran agama atau pun tokoh agung tertentu, hanya secara membabi buta.
Kita, mengikuti dan meyakini sesuatu itu, hanya atas dasar perintah para pendahulu kita secara turun temurun dan secara tradisional tanpa memahami makna serta tujuannya.
Anand Krishna, bahkan sangat mengagumi ajaran kasih Yesus Kristus. Ia sangat mengagumi, pada pengajaran “Khotbah di Bukit” lewat Sabda Bahagia.
Namun, beliau ternyata bukanlah seorang Kristiani. Dia mengagumi Sang Kristus tidak bertujuan, agar dia diselamatkan. Atau pun untuk menjadi pengikut setia-Nya.
Semoga lewat beberapa peristiwa dan tindakan berikut ini, mata kesadaran rohani serta kemanusiaan kita turut dibuka dan dicerahkan.
Berikut ini, dikutip sejumlah kesaksian Anand Krishna.
Kesaksian dalam Tulisan
(1) Di saat Paus Yohanes Paulus II berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), saat beliau berhadapan dengan tiga ratusan tokoh dan pemimpin agama. Apa yang terjadi?
Anand Krishna spontan menciumi tangan sri Paus. Maka, para tokoh yang lain yang menyaksikan peristiwa itu pun segera juga turut mencium tangan beliau.
Padahal sebelumya, mereka tampak sangat kaku dan kikuk.
Komentar dari beliau. Mengapa kita, untuk mencium tangan seseorang yang terhormat itu harus berpikir dulu dan dikomando?
Rupanya selama ini kita sudah diracuni oleh paham fanatik dan kepicikan di dalam beragama.
(2) Di saat Dalai Lama, Pemimpin Spiritual Tibet mengunjungi Vatikan, Sri Paus pun bersikap spontan dan langsung meletakan patung Sang Buddha di Altar Utama.
Andaikan semua Pemimpin Agama bertindak serupa ini, mungkin dunia kita, kini telah menjadi tempat yang sangat indah untuk dihuni, demikian celetuk Anand Krishna.
Anand Krishna juga mengagumi Mpu Tentular, yang berwawasan seluas samudra. Juga, Sri Mangkunegara yang menulis Wedhatama.
Beliau sangat risau dengan kondisi riil kekinian bangsa kita yang sangat fanatik dalam bersikap serta dalam beragama.
Mengapa Demikian yang Terjadi?
Disinyalir sebagai faktor penyebabnya, mungkin saja berasal dari cara pendekatan dan pengajaran agama kita yang bertolak dari kepicikan serta kesempitan wawasan.
Juga berasal dari sikap curiga dan prasangka buruk kita kepada sesama. Hal ini dapat menjadi momok di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Semua realitas pahit pedih ini disebabkan oleh kesempitan dan sikap picik kita dalam hidup beragama dan bermasyatakat.
Pencerahan sejati hanya lahir dari nurani yang bersih dan terbebas dari kedengkian serta fanatisme.
…
Wolotopo, Ende,ย 27ย Meiย 2024

