Orang yang kelihatannya ceria itu belum tentu bahagia.
Yang kelihatannya tampil aktif itu belum tentu percaya diri.
Yang kelihatannya hidup saleh itu belum tentu suci.
Yang kelihatannya baik itu belum bisa dipastikan ia akan baik selamanya.
Yang kelihatannya setia itu belum tentu bisa dipegang kata-katanya.
Itulah sebabnya, belajarlah untuk selalu bisa membedakan. Tidak dengan kemarahan, kebencian, atau dengan rasa tidak suka. Tapi membedakan itu dengan dasar etika, moralitas, dan standar kebenaran yang pernah diajarkan.
Jika benar-benar bahagia: lahir-batin kita bahagia.
Jika kita percaya diri: lahir batin kita sudah selesai dengan diri sendiri.
Jika kita suci: lahir batin kita makin asli di hadapan Sang Pencipta.
Jika kita baik: lahir batin kita dikenal baik oleh orang-orang di sekitar kita.
Jika kita setia: lahir batin tidak ada kepalsuan atau pengkhianatan dalam diri ini.
Mengapa harus bisa membedakan? Karena ujung dari peziarahan hidup di dunia ini adalah kematian. Jangan sampai kita baru bisa membedakan, ketika berada di ujung jematian itu agar terlambat, dan menyesal tiada guna.
Sebab, setelah kematian, tidak bisa memilih, hanya berserah! Hanya bisa melihat: Oh, ada Surga. Oh, ada Neraka.
Hidup ini harus selalu diperbarui dan dimaknai.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

