| Red-Joss.com | Setiap orang pasti ingin hidupnya sukses dan bahagia. Untuk mewujudkannya, resep ini dijamin sangat cespleng, yakni “Takut akan Allah.”
Bukan berarti Allah itu menakutkan, melainkan hidup kita yang didasari kasih untuk tidak mengecewakan, menyakiti, dan membuat hati Allah sedih. Karena Allah adalah kasih.
Dasarnya adalah, jika kita ingin diperlakukan dengan baik, hendaknya kita berlaku baik pada sesama. Hidup saling mengasihi, dan berkenan bagi Allah.
Ketika hidup diorientasikan untuk mengasihi sesama itu tidak sekadar berteori atau retorika, tapi harus dihidupi dalam keseharian agar kasih itu jadi nyata.
Hidup adalah kasih, ketika hidup ini untuk memberi, dan ikhlas hati.
Lihatlah matahari yang menyinari alam semesta ini. Ia tidak pilih kasih, tapi berlaku sama untuk menyinari orang baik dan jahat.
Lihatlah pohon itu, hidupnya untuk memberi. Pohon itu tidak mengeluh, ketika tubuhnya dilukai dan disakiti. Sebaliknya pohon itu tetap memberi buah untuk dipanen.
Sesungguhnya, begitu pula dengan hidup kita yang takut akan Allah. Hidup untuk berbagi dan memberi cuma-cuma, karena kita telah diberi semuanya itu oleh Allah.
Ketika kita diperlakukan tidak adil, dikecewakan, dan disakiti oleh sesama agar kita tidak membalas, tapi memberi maaf, mengampuni, dan mengasihi. Kita tidak sekadar belajar dari matahari atau pohon, tapi meneladani untuk mengisi dalam hidup keseharian kita.
Keteladanan itu harus dihidupi agar bermakna. Takut akan Allah adalah hidup untuk memberi dengan ikhlas hati.
…
Mas Redjo

