“Jika kamu hendak mengotori langit dengan ludah, maka ludah itu sendiri yang akan mengotori wajahmu.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Suka dan tidak suka itu amat mudah di media sosial. Tidak suka langsung dislike, suka langsung beri image jenpol ke atas. Kadang tanpa pikir panjang, perasaan, bahkan tanpa pertimbangan dan logika.
Setiap manusia mempunyai pemikiran dan pendapatnya sendiri. Tapi itu bukan jadi alasan untuk nyinyir, melukai, membenci, apalagi menghujat mereka yang beda pendapat dengan kita. Namanya juga manusia. Kita tidak bisa mengendalikan mereka. Tapi kita bisa mengendalikan respon kita.
Apa yang bisa kita lakukan, ketika dibenci, dicaci, dibully, dihina dan dimusuhi, nyatanya mungkin itu bukan kita yang salah.
Alkisah, ada seorang pemuda yang marah sekali dengan seorang guru spiritual. Karena beda pendapat, pemuda itu melontarkan kata kasar dan maluapkan kebenciannya. Sang guru itu diam, mendengarkan dengan sabar, tenang, dan tak berkata sepatah kata pun.
Setelah pemuda itu pergi, murid yang melihat itu penasaran dan bertanya: “Kenapa Guru tadi diam dan tak membalas makian pemuda itu?” Guru bijaksana itu berkata: “Jika seorang memberi kita sesuatu dan kita tidak menerima pemberian itu, lalu milik siapakah pemberian itu?”
“Milik si pemberi” jawab murid itu lugas.
“Betul,” kata sang guru.
Benci itu ibarat kita mau mengotori langit dengan ludah. Ketika ludah itu disemprotkan ke atas akan mengotori muka sendiri.
Jika kita dibenci, dimaki, dibully, dan dimusuhi itu biarkan saja. Tak perlu ditanggapi, apalagi diambil hati. Karena sebenarnya mereka sedang membuang sampah di hati sendiri. Jika kita diam, sampah itu tidak jadi milik kita. Kalau ditanggapi sampah itu jadi milik kita.
Jadilah bijak dan rendah hati.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

