Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Alam raya beserta isinya adalah ekspresi dari wajah agung Sang Pencipta-Nya.”
(Didaktika Hidup Beriman)
…
| Red-Joss.com | Kita, manusia hanyalah setitik debu abu di ujung tumit Sang Pencipta alam raya ini.
Sungguh, betapa kecil dan dina papa kita di hadapan hadirat-Nya.
Kita, sungguh tidak mampu memandang secara kasat mata keagungan dan pancaran kasih dari wajah agung-Nya. Namun, kita dapat merasakan eksistensi hadirat-Nya, lewat keberadaan serta penampakan seluruh isi alam raya ini.
“Langit pun memancarkan kemuliaan Tuhan dan bumi pun bersorak-sorai memuji-Nya.”
Kita dapat memandang, merasakan, bahkan mampu menghayati keberadaan Sang Pencipta lewat kehadiran (penampakan) bumi berserta isi alam raya ini.
Maka, pandangilah pada deretan keagungan perbukitan batu sunyi serta lelancip puncak gemunung nan hening sepi itu.
Rasakan dan resapi kehadiran-Nya, lewat lembut sepoi hembusan angin di pegunungan.
Juga, dengarkan dendang nyanyian riuh semesta, lewat deru gemuruh gesekan dedaunan pepohonan, serta pada lenggok leliukan pepucuk cemara gunung berkabut.
Juga pada gairah riak-riak air danau, gelora samudra biru, dan deburan lidah girang ombak memukul bebatuan pantai tiada henti.
Sesungguhnya, mereka seolah-olah mau mengabarkan, bahwa di balik itu semua, ada tetangan nan agung yang menggetarkannya.
Tak ketinggalan pada kedipan genit geminta, senyum lembut sang rembulan, serta kesetiaan sang mentari, yang tiada henti mengitari planet bumi ini.
Ya, itulah eksistensi dari kehadiran-Nya yang bagai kuyup embun membasahi wajah agung bumi ini.
Itulah deru gemuruh derap langkah dari seisi alam raya ini.
“Tuhan adalah gunung batu dan benteng pertahananku!”
Sejatinya, alam semesta ini bernyawa. Dalam senyap sepoi, sang alam pun mewartakan kemuliaan Allah.
Marilah kita senantiasa bersyukur atas kehadiran isi alam raya ini!
…
Wolotopo / Ende,ย 25ย Meiย 2024

