| Red-Joss.com | Kesaksian keluarga Kristiani itu terletak pada kesetiaan mereka. Sebelum, pada saat, dan sesudah menikah, yang namanya kesetiaan itu harus dijaga. Tidak usah ada yang saling menyalahkan, menghakimi, atau menceritakan kesalahan pasangannya kepada orang lain. Jika ada masalah lebih baik diselesaikan berdua, dari hati ke hati.
Dari dua menjadi satu! Yang menciptakan adanya kesatuan ini adalah kepercayaan dari keduanya. Cinta yang didasari dengan kepercayaan itu ibaratnya seperti dibangun di atas batu yang kokoh. Saat ada badai, angin, dan topan kehidupan, tangan dari keduanya harus saling berpegangan dan saling melindungi.
Lihat! Yang terbaik itu pasangan kita. Yang terbaik adalah keluarga kita. Hentikan kebiasaan untuk membandingkan pasangan dengan keluarga yang lain. Karena hal itu kebiasaan buruk dan dapat merusak kepercayaan yang sudah dibangun. Bahkan, kita bersikap tidak adil dengan pasangan dan keluarga sendiri.
Sesungguhnya masalah yang terjadi itu bisa dilewati, jika keduanya saling percaya. Yang penting, tidak mudah melarikan diri ketika ada masalah. Juga tidak cepat membenarkan diri, ketika pasangan kita bersalah. Lebih tepat diklarifikasi dan ditemukan solusinya. Dibutuhkan kebesaran hati untuk memaafkan dan mengampuni.
Setelah itu hendaknya saling mendoakan dan memberikan berkat. Tersenyumlah kembali seperti saat mengucapkan janji perkawinan, di mana saat itu ingin tetap menjaga cinta sehidup semati, dalam untung dan malang, serta dalam suka dan duka. Oo, sungguh indahnya dan sucinya Sakramen Perkawinan itu! Oo, sangat mengagumkan, ketika bisa melihat para sahabat berjuang dengan mati-matian dalam kesetiaan perkawinan yang suci ini.
Tetaplah teguh untuk setia dan saling mengasihi dalam ikatan suci Sakramen Perkawinan Kristiani.
Tuhan memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

