| Red-Joss.com | Memancing itu hiburan yang murah meriah, apalagi bagi SS yang jauh dari keluarga. Prinsip hidup bahagia SS adalah, “Tiada hari tanpa mancing.” Sepulang kerja, bahkan hampir saban hari ia memancing, baik di setu dan sesekali di empang.
“Menghilangkan sepi,” jawab SS sekenanya, ketika ditanya KM. Padahal, jika dapat ikan, SS tidak pernah mengolah sendiri, tapi ikan itu diberikan ke tetangga rumah. Karena istri dan anaknya berada di kampung.
“Sayang uangnya, mending dikirim ke keluarga di kampung,” saran KM.
SS tertawa. Ia beralasan, bahwa biaya mancing itu dari tip pemberian orang yang dilayani saat belanja di toko. Sedang gaji dan sebagian dari uang Mingguan itu selalu dibantu transfer oleh Boscil ke istrinya.
KM jadi malas untuk ngobrol lebih panjang dengan SS. Seharusnya ia lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan menabung, ketimbang untuk diri sendiri. Faktanya, SS sulit menerima saran teman lain, dan merasa benar sendiri.
Tidak hanya itu, demi muasi nafsu memancing, SS tidak hanya irit, tapi pelit pada diri sendiri. Ia jarang makan, kecuali merokok, ngopi, dan beli gorengan sebagai pengganjal perut.
Bahkan SS pernah juga menolak tawaran Boscil, ketika diminta untuk belajar nyopir agar statusnya naik. Otomatis, penghasilannya juga lebih baik, tidak sekadar melayani di toko.
Karena diberi saran baik, ditolak, Boscil jarang menyuruh SS lagi.
Banyak teman menyayangkan sikap SS yang tidak mau perbaiki nasib, tapi lebih senang menuruti hobi mancing, hingga lupa diri.
SS juga tidak sadar, bahwa phisik yang diforsir dan makan yang tidak diperhatikan, cepat atau lambat tentu berdampak pada kesehatan tubuh. Terbukti ia diserang penyakit, dan sakit parah. Bahkan dokter menyarankan agar ia diopname.
Bersamaan dengan sakitnya itu, anaknya yang kecil butuh biaya tidak sedikit, karena harus masuk SMP. Ia tidak mempunyai tabungan. Persoalan datang berendeng yang sebenarnya dibuat sendiri. SS memburu senang, tanpa mau berpikir masa depan.
Jika SS harus opname di RS, tidak mungkin istri mengurusinya, karena kedua anaknya di kampung. Lalu?
Persoalan SS itu bisa juga terjadi pada kita, ketika ego ini cenderung dominan. Kita mau menang sendiri, hingga tidak berempati dan peduli pada orang lain.
Dibutuhkan kerendahan hati untuk mendulukan kepentingan keluarga, ketimbang kepentingan diri atau kelompoknya.
Apa pun masalah yang mungkin timbul atau terjadi, kita dituntut belajar menyikapi hidup ini secara bijaksana dan mengatur strategi untuk mengantisipasi masalah yang muncul belakangan.
Sesungguhnya hidup ini adalah kesempatan untuk perbaiki diri dan keadaan agar jadi baik, dan lebih baik lagi.
Kesempatan baik yang tidak boleh disia-siakan agar kita tidak menyesal belakangan.
Kita dituntut untuk selalu siap sedia dan langkah antisipasi, apa pun yang bakal terjadi. Karena kita adalah pejuang tangguh dan pemenang sejati!
…
Mas Redjo

