Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kesejatian adalah si anak emas dan sahabat mesra dari kebaikan, kebenaran, dan keindahan hidup.”
(Amanat Agung dari Sang Kehidupan)
…
| Red-Joss.com | Kesejatian hidup itu akan sungguh mampu membedakan antara tulen emas dan si culas loyang.
Kesejatian tahu pula, di mana kambing dan di mana domba.
Dia bahkan sanggup memahami pula isi nurani si tulus jujur dan gejolak batin si bongkok nan bengkok.
Pribadi sejati tahu dan mampu pula untuk menghayati antara kebenaran dan kebaikan dengan kepalsuan dan tindakan berkamuflase.
Sang kebenaran itu bertakhta di dalam sanubari pribadi berintegritas. Ia pun pantang untuk bertutur serampangan yang sarat rekayasa.
Jika itu memang A dikatakan itu adalah A. Jika itu B akan dikatakan, bahwa itu adalah B. Karena baginya, selebihnya adalah tindakan si iblis.
Namun, realitas hidup kita justru berkata sungguh lain. Artinya, kita justru sedang berhadapan dengan sebuah dunia yang identik dengan dunia abu-abu. Sebuah dunia sarat rekayasa dan kepalsuan.
Dampaknya, sudah sangat sukar untuk dibedakan, antara yang benar dan salah, serta yang baik dan yang buruk.
Maka, seluruh isi tindakan dan perbuatan kita, sejatinya hanyalah sebuah kepalsuan belaka.
Bahkan, eratnya rangkulan saat berjabat tangan, hanyalah ekspresi kepalsuan belaka.
Manisnya sesungging senyuman di bibir, hanyalah liukan licik semburan ular berbisa.
Serta gapaian dan elusan lembut tepukan jemari di pungung, sejatinya hanyalah sebuah rangkulan pengkhianatan.
Kini, saya balik bertanya kepada semesta, “Mengapa demikian culas jiwa kita manusia?”
Sejatinya, bahwa hidup kita ini dan kini, hanyalah sebabak sandiwara, kala kepalsuan telah mengembangkan kepak sayapnya.
Sesungguhnya, makna sejati kebahagiaan hidup ini telah terhalau sirna dari dalam relung batin anak manusia!
…
Wolotopo,ย 22ย Meiย 2024

