| Red-Joss.com | Selain Mata Kuliah Berpikir Kritis dan Kreatif, saya mengajar ilmu dasar yang lain, yakni Berpikir Design. Keduanya bertumpu pada realitas manusia yang tidak pernah lepas dari tantangan hidup dan menapak lebih baik dalam mengatasinya, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Istilah kerennya yakni kemampuan ‘problem solving’.
Dalam Ilmu Berpikir Design, ada 5 tahap, yang pertama: ‘Empathy’.
Kemampuan ini dipilah 3:
(1) Understanding. Untuk dapat berempati, kita harus tahu betul, apa problem orang yang ingin kita bantu. “Don’t judge the book by it’s cover.” Berasumsi saja akan mentah hasilnya.
(2) Bela rasa / share-feeling, akan terjadi, jika kita yakin, bahwa pemahaman terhadap orang itu benar, tidak hanya ‘katanya’ dan
(3) ‘Let them experience the difference’, artinya niat kita bulat untuk membantunya menikmati kemerdekaan pikiran, hati dan jasmani.
Kemampuan ber-‘Empati’ sangat berguna untuk siapa saja, utama pemimpin, karena akan sangat menentukan mutu keputusan dan mutu ‘problem solving’-nya.
Seperti Matius katakan: “Yesus selalu tergerak oleh belas kasih dan memenuhi para pengikut dengan berkat tertentu.”
Belas kasih, simpati, dan empati semuanya harus dilakukan dengan memiliki hasrat untuk melakukan hal nyata untuk orang lain atas penderitaannya. Empati yang sebenarnya adalah rasa hati yang ikut berpartisipasi dalam penderitaan orang lain.
Mari, kita tingkatkan kualitas empati kita satu sama lain agar makin berbuah.
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

