| Red-Joss.com | Maria lahir dari pasangan Ibu Ana dan Bapak Yoakim. Keluarga yang sederhana. Keduanya sebagai pasangan suami-isteri yang setia sampai akhir. Keduanya juga jadi teladan yang baik bagi kehidupan Maria.
Tidak banyak teori tentang kasih dari pasangan itu, tapi banyak “tindakan-ungkapan-ekspresi kasih” yang diberikan. Keduanya telah mendidik Maria dengan baik, sehingga Maria tumbuh jadi remaja yang sangat rendah hati, taat, suci dan peka untuk menangkap kehendak Tuhan. Dia tidak egois. Dia selalu mendahulukan Tuhan.
Sungguh, dari pohon yang baik itu muncul buah yang baik dengan kualitas unggul. Itulah sebabnya, keluarga ini sangat diberkati Tuhan, dan Tuhan telah menemukan mutiara yang sangat indah terpancar dari keluarga ini, yaitu di tengah keluarga sederhana yang sungguh taat kepada-Nya.
Pada akhirnya Tuhan mengutus Malaikat Gabriel untuk membawa berita gembira kepada Maria yang remaja itu, dan memilihnya sebagai Ibu Tuhan Yesus.
Sungguh benar, Maria adalah pribadi yang taat dan rendah hati dengan mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu – Ecce Ancilla.”
Luar biasa indah!
Refleksi:
- Bisakah keluarga kita seperti keluarga Santa Anna dan Santo Yoakim?
- Masih adakah keluarga yang seperti mereka?
- Masih adakah pribadi-pribadi yang seperti mereka di tengah keluarga kita?
- Harus seperti itukah setiap keluarga mendidik anak-anaknya?
- Masih adakah kasih yang kuat sejak janji perkawinan hingga kini?
- Masih hormatkah anak-anak yang telah kita asuh-asah-asih selama ini?
- Apakah anak yang kita didik itu jadi pribadi-pribadi yang rendah hati dan taat kepada Tuhan?
Saatnya kita merefleksi keluarga masing-masing untuk belajar meneladani Santa Anna dan Santo Yoakim, orangtua Bunda Maria.
Tidak usah malu, jika kita mau belajar lagi demi keutuhan cinta dan kesatuan keluarga kita.
Jangan biarkan berlarut-larut keluarga kita yang sedang konflik, renggang, dan atau tidak harmonis itu.
Sesungguhnya semua itu sebagai tanda, bahwa kita telah memberi contoh yang buruk kepada anak-anak.
Sepandai-pandainya kita berusaha menutupi hal itu, tetap yang ditangkap oleh anak-anak adalah hubungan Ibu dan Bapak yang kurang harmonis dan tidak saling mencintai. Sebab mereka melihat realita. Lihat saja di kemudian hari: mereka memberontak atau belajar dari kesalahan orangtua. Sehingga mereka akan membangun rumah tangga dengan hati-hati.
Saatnya berefleksi untuk berbenah dan perbaiki relasi kasih itu demi keutuhan keluarga. Dengan meneladani keluarga Santa Ana dan Santo Yoakim, kita wujudkan keluarga harmonis yang rendah hati dan saling mengasihi.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

