| Red-Joss.com | Dalam suatu serasehan kecil, tukar pikiran di gazebo rumah, seorang teman menyinggung tanda-tanda akhir zaman. Di antaranya bencana alam, perang, wabah penyakit, dan munculnya nabi-nabi palsu.
Ketika dimintai tanggapan soal itu, saya merespon dengan senyuman. Karena tanda-tanda zaman itu sering muncul, tapi faktanya dunia belum kiamat.
Bagi saya pribadi, ramal meramal itu hal biasa. Meskipun ada orang yang mampu menerawang masa depan, tapi tidak seharusnya jadi acuan, apalagi sebagai suatu keniscayaan. Karena Yang Maha Pasti itu Allah.
Sebaliknya, ketika tanda-tanda itu muncul, sesungguhnya kita sedang diingatkan agar sadar diri untuk datang mendekat pada Allah yang Sumber Hidup. Kita meruwat dan perbaiki diri ini terus menerus, supaya hidup berkenan bagi-Nya.
Sesungguhnya bencana banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi, dan seterusnya itu tidak lebih, karena alam sedang meruwat diri untuk mencari keseimbangannya.
Perang itu terjadi, karena manusia cenderung mengedepankan ego, ambisi, dan mau menang sendiri. Sehingga mereka kehilangan kasih sayang dari hatinya.
Begitu pula dengan munculnya nabi-nabi palsu yang menjual ayat-ayat suci dan nama Tuhan untuk perkaya diri sendiri. Kita harus teguh iman agar tidak tergoda dan mengikutinya. Karena hanya Tuhan Yang Maha Pencipta itu yang harus disembah dan dimuliakan.
Jujur, ketika tanda-tanda zaman itu dikaitkan dengan kiamat, saya tidak mau komentar atau menanggapi. Karena ada tertulis:
“Akan tetapi, mengenai hari dan waktunya, tidak ada satu pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga juga tidak, Sang Anak pun tidak, tapi hanya Bapa yang tahu” (Mat 24: 36).
Alangkah mencerahkan hati, jika kita sadar diri untuk mengelola dan merawat alam ciptaan-Nya itu untuk kepentingan bersama. Hidup damai dan bahagia, karena kita saling mengasihi.
…
Mas Redjo

