| Red-Joss.com | Ketika saudaraku seiman gamang untuk membimbing anaknya yang bimbang dalam menentukan hari depannya, dengan cepat kugenggam tangannya dan kubawa dia untuk lebih dulu berjumpa Dia, pembimbing abadi kehidupan ini, lewat doa berikut:
“Peganglah saudaraku ini dengan erat, ya Tuhan, dan ajarilah dia menjalani hidup ini sesuai panggilan yang telah Engkau berikan kepadanya. Arahkan langkahnya sebagaimana Engkau menjaga hidupku, karena kami, dia dan saya, ingin memuliakan-Mu.”
Pertanyaannya: “Adakah cara yang cepat dan baik untuk ditempuh anak kami yang ingin menikah dengan calonnya yang tidak seiman?”
Ketika masih muda dengan tangkas pertanyaan itu kujawab .Tapi di saat usiaku menua, sebelum menjawab, cepat saya posisikan diriku ini sebagai dirinya, yang kini gelisah, bimbang dan goyah, oleh problem anak gadisnya itu.
Memang bukan kali ini saja saya ditanya. Saya sangat sadar, jawaban saya akan turut berdampak pada hari depan anaknya, karena itu saya tak boleh grusa-grusu. Saat badai keraguan itu belum usai, setidaknya dia sudah berpegang erat pada Dia, Pokok Anggur Sejati, dan saya berharap dia tidak akan melepas tangan gadisnya.
Salam sehat dan tetap teguh dalam iman.
…
Jlitheng

