| Red-Joss.com | Pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apa pantas dan layakkah kata-kata, sikap, dan perilaku kita pada teman, sahabat, orangtua, dan sesama?
Bertanya pada diri sendiri itu tidak hanya perlu, tapi suatu keharusan dan mutlak penting sebagai refleksi agar kita tidak sembrono, sombong, dan menyinggung perasaan orang lain.
Kendalikan mulut dan jaga perilaku.
Jangan karena merasa akrab dan dekat dengan teman, kita berkata-kata tidak sopan dan kasar, hingga kehilangan adab.
Jangan karena bercanda, hingga kita jadi kebablasan, lupa diri, dan melukai hati orang lain.
Jangan karena dengan orang kecil, miskin, dan sederhana itu kita lalu berhak meremehkan, arogan, dan bersikap tidak sopan, sehingga kita jadi tinggi hati dan kehilangan adab serta tata krama.
Jika kita tidak mau diajak bercanda, karena sedang banyak masalah dan lelah. Ya, seharusnya kita juga melihat keadaan teman itu sebelum kita bercandai. Apa kita tahu, jika teman mempunyai masalah, dan kita bercanda sekadar untuk menghibur atau melecehkannya?
Alangkah bijak, jika mau membuka hati untuk belajar peka dan peduli agar kita jeli melihat situasi kondisi.
Alangkah bijak pula, jika kita belajar beradaptasi dan bersikap luwes agar kehadiran kita selalu diterima oleh siapa pun dan di mana pun kita berada.
Karena sesungguhnya, kita juga ingin dihargai, dihormati, dan diperlakukan baik oleh siapa pun. Sama seperti kita memperlakukan mereka.
Teristimewa, dan amat teristimewa, jika kita melakukan hal itu kepada Tuhan Yang Maha Pencipta.
Faktanya, bagaimana sikap hormat dan perilaku kita pada-Nya, ketika menyebut nama-Nya Yang Kudus, berdoa, dan beribadah?
Apakah kita merasa layak, pantas, dan hormat pada-Nya?
Ketika badan ini kotor, berpakaian dekil dan kurang pantas, padahal kita hendak sujud dan menyembah-Nya.
Jauhkan untuk menilai diri sendiri dengan pongah, bahwa yang penting itu hati. Karena sejatinya Tuhan bertakhta di hati kita.
Jika kita hormat pada orang yang mengundang pesta kawin, ya, kita semestinya makin hormat dan tunduk saat sowan kepada-Nya.
Kita dituntut berani memiskinkan diri semiskin-miskinnya di hadapan Tuhan, karena kita manusia biasa yang berdosa dan ciptaan-Nya.
“Ya, Tuhan, saya tidak pantas. Engkau datang kepada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”
…
Mas Redjo

