| Red-Joss.com | Disalahkan, ketika tidak bersalah, kita melawan! Disalahkan, ketika benar, kita menjelaskan. Disalahkan, ketika tidak jelas, kita meminta klarifikasi.
Disalahkan, ketika salah, kita menerima! Disalahkan, ketika tidak benar, kita minta maaf. Disalahkan, ketika jelas kesalahannya, kita memperbaiki diri.
Sejatinya, kesalahan itu bisa jadi ruang untuk belajar. Titik berangkat untuk menuju sebuah perubahan. Sekaligus sebagai kesempatan untuk membuktikan diri menuju hidup yang baru.
Ketika keduanya salah, tapi saling menyalahkan, persoalan itu tidak akan selesai. Keduanya merasa kalah dan menang, sehingga ronde pertarungan berikutnya tetap ada, meskipun wasit sudah pulang, juri tidak ada, dan tiada penonton. Keduanya tetap mau bertarung di ring tinju pertandingan.
Ketika di antara keduanya ada yang salah, tapi tidak mau mengakui, maka persoalan itu juga tidak akan selesai. Pertarungan jadi tidak imbang, karena jelas tidak bisa melawan. Dibutuhkan keberanian untuk mengangkat bendera putih tanda menyerah, dan berdamai.
Sesungguhnya kesalahan demi kesalahan itu ada di tengah keluarga, komunitas, dan masyarakat kita. Budaya mencari kambing hitam demi kepuasan itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Justru yang terjadi, topeng kemunafikan itu akan dibuka, dan setelah dibuka, ternyata sumber utama semua itu adalah kebohongan.
Jika kita berbohong, jangan suka menyalahkan. Kita tidak jujur, jangan mencari-cari kesalahan. Kita bersalah, jangan mencari orang lain untuk disalahkan. Karena kita salah besar.
Berani mengakui kesalahan itu hal positif dan harus dihargai. Saat kita salah, dan pribadi itu mengampuni kesalahan kita, berarti kita mempunyai hidup yang baru. Rangkul kembali pribadi yang kita kasihi. Sebab, sisa waktu yang diberikan oleh Tuhan ini bukan menyembunyikan kesalahan, melainkan untuk melepaskannya, dan hidup dalam damai.
Ketika disalahkan, jangan menutup telinga, tapi harus dihadapi seperti kesatria. Dia bukan musuh, melainkan pribadi yang dikasihi. Percayalah, kita mempunyai hati untuk saling mengampuni, ketika salah satu dari kita berbuat salah. Sesungguhnya setiap orang itu rindu untuk diampuni.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

