Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ada titik awal kehidupan, lalu disusuli oleh titik-titik perjuangan, dan akan diakhiri dengan sebuah titik yang paling akhir.”
(Misteri sang Kehidupan dan Kematian Manusia)
Dentangan Lonceng Kematian
Dentangan lonceng itu
yang berdendang dalam alunan sadarnya
Ia pun kadang mengabarkan peristiwa kelahiran
Namun
lebih sering mengabarkan berita kematian
(Pada Sepotong Catatan)
Tak ada pilihan lain bagi anak manusia, selain daripada siap untuk menghadapi peristiwa paling tragis, ialah sang kematian.
Para filsuf telah mengabarkan kepada kehidupan, bahwa “Barang siapa yang pernah dilahirkan ke dunia, ia pun siap untuk menghadapi sebuah kepastian paling tragis, ialah sang kematian. Itulah sebuah titik paling akhir bagi seorang anak manusia.
Manusia tidak pernah tahu, kapan saat paling mengenaskan itu tiba.
Sungguh, kematian itu datang laksana pencuri di waktu malam. Artinya, sang malaikat maut itu akan datang kapan dan di mana saja.
Jika kita boleh kembali menoleh, secara kronologis, di saat titik awal kehidupan kita. Di saat itu, kita masih sangat kecil, muda, remaja, pemuda, dan akhirnya dewasa.
Lalu kita sampai pada fase tahapan titik-titik perjuangan.
Di saat itu, kita telah menjadi orang dewasa. Kita sedang berkarier. Berkeluarga dan sibuk berkarya. Pada titik ini, kita mengalami masa kejayaan di puncak karier kita.
Lalu, kita akan mencapai pada tahapan paling akhir. Inilah sebuah titik paling krusial dan mengenaskan di dalam proses kehidupan seorang anak manusia.
Saya teringat akan obsesi dari seorang filsuf dan pujangga agung dunia, Santo Agustinus.
Beliau berkata, “Tuhan, hatiku tidak tenang sebelum aku sampai dan beristirahat pada-Mu!”
Pada titik paling akhir ini, terdapat sebuah obsesi terselubung bagi seorang anak manusia. Sejatinya di dalam sabubarinya, ia sesungguhnya selalu merindukan saat paling akhir itu.
Di sana, dia pun akan sangat penasaran. Ada apa di balik titik paling akhir ini? Bagaimana nasib setelah ini?
“Sesungguhnya, sang kematian adalah sahabat karib dari sang kehidupan.
Keduanya, ibarat sekeping mata uang koin. Ada sisi awal dan ada sisi akhir. Ada suka dan gelak tawa, tapi juga ada duka serta linangan air mata”
…
Kediri,ย 16ย Meiย 2024

