Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kita pernah melukis
cinta di langit
Tetapi asap pabrik naik ke atas
lalu menghapusnya.”
(Puisi Samsir Marangga)
…
| Red-Joss.com | Kita, hidup di atas bumi ini, di sebuah lingkungan. Dari dan di tempat ini pula, kita berasal dan kini berada. Inilah tempat kelahiran dan lingkungan hidup kita.
Geliat Kota
Tulisan berlatar belakang kondisi lingkungan ini, diinspirasi oleh sebuah tulisan dari harian Kompas, Jumat, 10/5/2024, berjudul “Teriak Berisik Berisi dari Balikpapan,” oleh Sucipto.
Membaca dan merenungkan deskripsi isi tulisan ini, saya teringat akan sebuah ensiklik yang ditulis oleh Paus Fransiskus.
Ensiklik kedua Sri Paus , 24 Mei 2015 yang berjudul, “Laudato Si.” (Mi Signore), bermakna, “Terpujilah Engkau, wahai, Tuhanku.”
Mengapa ensiklik Sri Paus ini justru berkaitan dengan tulisan Sucipto via harian Kompas?
Karena kedua tulisan ini erat berkaitan dengan โbumi, sebagai sebuah lingkungan hidup kitaโ.
Di dalam ensiklik ini dimaksudkan, bahwa Ibu Bumi (Ibu Pertiwi), sebagai rumah impian kita bersama. Ibu Pertiwi yang memelihara, merawat, dan mengasuh hidup kita di dalam sebuah lingkungan ini.
Sedangkan di dalam harian Kompas, Sucipto, menulis tentang “musisi kota Balikpapan mengabadikan situasi tempat tinggalnya melalui musik dengan lirik kritis. Mereka menunjukkan cinta pada kotanya dengan cara unik.
Lewat larikan-larikan puisi pendek ini, mereka mau menunjukkan sebuah kegetiran, kegelisahan, kepedulian, dan keberpihakan pada lingkungan hidup mereka.
“Kita pernah melukis cinta di langit
Tetapi asap pabrik naik ke atas
lalu menghapusnya.”
Kebanggaan dan Harapan yang Terpupus
Lewat jenis puisi ‘diafan’ (puisi yang kata-katanya polos lugas dan transparan) ini, sang Penyair yang mewakili suara pilu serta tangisan masyarakat mau mengabarkan, bahwa harapan serta kerinduan mereka (penduduk kota) akan sebuah lingkungan hidup yang bersih, nyaman, serta aman, kini justru dinodai polusi kota, berupa kepulan asap dari pabrik yang kini bertumbuh bagai jamur di kota Balikpapan.
Kini, sadarlah kita, bahwa siapa pun dapat berperan sebagai duta lingkungan hidup. Karena lewat cara berseni: bermusik dan bersastra, kita pun dapat menyampaikan kerinduan serta harapan kita untuk meraih sebuah lingkungan hidup ideal.
Kecemasan warga yang diekspresikan lewat larikan puisi serta irama lagu ini, justru mau mendeskripsikan, bahwa kini, betapa tercemar dan terlunta warga kota mereka sebagai dampak dari buruknya lingkungan hidup mereka.
Di dalam konteks ini, siapa yang terluka dan tercederai? Bukankah sang Bunda Pertiwi, Ibunda kehidupan kita yang mengalami penderitaan itu?
Kini sadarlah kita secara nalar pun nurani, bahwa taman Eden sejati sudah tercemar lewat sikap melawan dari sang manusia Eden.
Kini, taman-taman Eden di bumi ini mengalami nasib serupa. Tercemar dan dicemari oleh ulah tak bertanggung jawab, juga oleh tangan-tangan jahil sang manusia.
…
Kediri,ย 15ย Meiย 2024

