| Red-Joss.com | Maaf, jika aku memilih untuk diam itu tidak berarti malas bicara atau sedang marah. Aku berdiam diri, karena ingin mendengar dengan hati. Sekaligus untuk menghargai dan menghormati lawan bicaraku.
Izinkan aku untuk diam, karena aku ingin memuji dan mengagumi-Mu. Teristimewa untuk mendengarkan firman-Mu agar jiwa ini senantiasa disegarkan. Dengan Ekaristi Kudus, aku ingin mengenyangkan jiwaku agar tidak lapar lagi.
Jadi, izinkan aku diam dan fokus untuk mendengarkan firman-Mu, melaksanakan, dan menghidupi dalam perilaku keseharian. Karena Aku ingin jadi pewarta dan pelaku firman-Mu.
Sesungguhnya aku berlaku diam itu sebagai jalan pertobatan untuk membangun intimasi dengan-Mu.
Selama ini aku dominan berbicara, karena ingin jadi topik dan pusat pembicaraan. Aku tak mau disaingi oleh siapa pun dalam segala hal, karena mereka tidak sebanding denganku.
Begitu pula dengan Allah yang tidak kuberi kesempatan untuk berbicara padaku. Allah itu tidak lebih tempat curhat. Dia harus memahami dan mengabulkan doaku.
Aku sadar-sesadarnya, ketika aku dijamah oleh kasih Allah. Dalam suatu homili Romo, aku diingatkan untuk menjadi bijaksana dengan cara banyak mendengar, termasuk dalam berdoa. Karena doa yang baik itu mendengarkan firman Allah.
Sejak saat itu aku ingin perbaharui hidupku. Aku ingin jadi pendengar yang baik di depan teman, dan teristimewa di hadapan Allah.
Ternyata seni mendengar itu luar biasa mempengaruhi pola pikirku. Perlahan tapi pasti usahaku makin melesat omsetnya. Karena aku mau mendengar dan memahami baik kebutuhan maupun kesulitan pelanggan. Hubunganku dengan istri dan anak-anak juga makin dekat dan akrab.
Ternyata, resep untuk sukses jadi pendengar yang baik itu modalnya adalah rendah hati di hadapan sesama, dan kita memiskinkan diri di hadapan-Nya.
Sesungguhnya, sehebat dan setinggi apa pun hasil pencapaian kita, semua itu anugerah Allah agar kita mudah bersyukur dan rendah hati.
Ya, Allah, izinkan aku berdiam dan bahagia di kemah-Mu!
Mas Redjo

