“Keep strong in faith, no panic.” – Rio, Scj
…
| Red-Joss.com | Majalah TIME, pernah menuliskan kisah seorang mantan Wakil Menteri pertahanan Amerika Serikat, yang diundang untuk memberikan pidato dalam sebuah koferensi besar yang dihadiri sekitar 1.000 orang.
Ketika di atas panggung dia membawa secangkir kopi pada styrofoam. Sebelum berbicara, dia mencium aroma kopi, tersenyum, dan meminumnya. Lalu dia berkisah, “Tahun lalu ketika saya berbicara di konfrensi ini, saat itu saya masih menjabat Wakil Menteri Pertahanan. Semua fasilitas saya dapat; penerbangan kelas bisnis, ada yang menyambut di bandara, dan setibanya di hotel semua sudah beres. Bahkan saat turun ke lobi, seseorang yang mengantar ke tempat ini memberi secangkit kopi dengan gelas keramik yang indah.
Hari ini saya datang bukan sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Semua saya urus sendiri. Tadi, ketika turun ke lobi, saya tanya adalah kopi? Lalu seseorang menunjuk mesin kopi di sudut. Saya menuangkan kopi di gelas styrofoam sendiri. Sebuah pembelajaran, ternyata secangkir kopi pada keramik tidak pernah diperuntukkan pada saya, tapi ditujukan untuk posisi yang saya pegang. Kini saya pantas mendapatkan gelas styrofoam.”
Sebuah pembelajaran indah untuk menyadarkan kita akan ‘humility and gratitude’.
Saat kita mendapatkan ketenaran, keberuntungan, jabatan, posisi dan senioritas, maka orang akan memperlakukan kita lebih baik. Mereka ramah, membukakan pintu, memberikan secangkir kopi atau teh, tanpa kita meminta.
Tapi pahami, bahwa semua itu tidak satu pun dimaksudkan untuk kita, tapi dimaksudkan untuk posisi yang sedang kita pegang. Untuk level yang telah kita capai sebagai pemimpin atau orang sukses.
Alangkah bijak, jika kita selalu rendah hati dalam menapaki hidup ini. Tidak selamanya kita berada di atas, ada saatnya kita di bawah. Karena roda kehidupan itu selalu berputar.
Sesungguhnya saat kita berada di atas hendaknya disadari, bahwa semua yang kita punyai, fasilitas yang ada, dan semua perlakuan yang kita terima, sebenarnya bukan ditujukan untuk kita, tapi untuk posisi kita.
Tetaplah rendah hati saat berada di atas, karena kita semua ini sama, pantas mendapatkan gelas styrofoam. Sebenarnya bukan gelas yang terpenting, melainkan isi gelas itulah yang terpenting. Makna sejati hidup bukan ada pada posisi dan apa yang kita punyai maupun fasilitas yang kita pakai, tetapi pada jatidiri kita.
Bersyukurlah! Dalam hidup ini banyak alasan untuk bersyukur. Kalau saat ini kita berada pada situasi sulit, usaha bangkrut, bisnis menurun, atauvkena PHK, teraplah bersyukur. Karena rasa syukur itu akan membuka pintu rejeki dan mujizat.
Ingat, ketika Tuhan menutup pintu rezeki, sesungguhnya Dia sedang membuka pintu rezeki yang jauh lebih indah.
Tetaplah teguh dalam iman, harapan, dan kasih. Karena bagi orang yang percaya dan mengimani-Nya itu tidak ada yang mustahil.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

