Simply da Flores
…
1.
Darah, Kematian dan Perempuan
Iri dengki kebrutalan nafsu
dilahirkan dari rahim kebodohan
Jiwa raga yang buta
didera lapar kasih sayang
dipasung dahaga cinta
Dari pucuk lara derita
darah mengucurkan sabda
membasuh jiwa raga perempuan
“Ibu, itulah anakmu
Anak, itulah ibumu”
Lalu
kematian mencatat amanat itu
dalam sejarah peradaban galau
Kehidupan dan kematian bersatu
melukis pilihan pribadi dalam waktu
2.
Pengampunan atas Kebodohan
Ketika pilihan keputusan pribadi
mengagungkan kejahatan brutalisme
atas dasar kebodohan egoisme
Maka
banyak sesama saudara menjadi korban
luka, darah, lara derita
menjadi fakta yang biasa
Ada pemuda sahaja semesta
Maklumatkan sabda penuh makna
mantra berbalut luka dan darah
doa sahaja kepada Sang Pencipta
“Ya Bapa,
Ampunilah mereka (pelaku kejahatan, brutalisme)
Sebab, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”
Jadi…
jangan melawan kejahatan dengan kejahatan yang sama, karena akan melahirkan beranak-pinak kejahatan
Tetapi
hanya doa, cinta kasih persaudaraan
dan pengampunan yang mampu
menjadi samudra pembasuh kebodohan
3.
Misteri Kejahatan dan Brutalisme
Dalam sakit lara derita
akibat iri dengki dendam
tanyakan dalam hatimu
Siapakah ibu bapaknya pelaku?
Saat dihujat caci maki sumpah serapah
entah apa pun alasannya
entah siapa pun pelakunya
Tanyakan dalam hati sanubarimu
Siapakah sanak saudaranya?
Ketika menjadi korban kejahatan
yang menimpa rasa dan ragamu
Telisik dalam lara deritamu
Siapakah sahabat kenalan si pelaku-nya?
Kepada semua pelaku brutalisme
tanyakan dalam diam doamu
Dari apakah diri pribadinya terlahir
Di manakah tempat tinggal lingkungannya
Mengapa dan untuk apa kebrutalannya
Apakah mereka terlahir untuk menjadi pelaku kejahatan dan brutalisme
Ini fakta dan misteri?
…

