| Red-Joss.com | Mungkin sudah sering mendengar ungkapan bijak yang mengatakan: “Guru biasa memberitahu, Guru baik menjelaskan. Guru ulung memeragakan, Guru hebat mengilhami, Guru inspiratif memantik ide dan kreativitas, mencerahkan dan mencerdaskan.”
Kata guru dapat diganti, misalnya dengan orangtua, Ayah, Ibu, sahabat, gembala, pamong, dan seterusnya. Sehingga dapat berbunyi: sahabat yang inspiratif adalah sahabat yang memantik ide dan kreativitas, mencerahkan dan mencerdaskan sahabatnya.
Maka, apa pun yang kita lakukan, kalaupun sebatas ucapan saja, jika mengalir dari hati akan dapat memantik ide dan kreativitas, mencerahkan dan mencerdaskan.
“Pakeeettttt…!”
Siang itu, gojek penghantar paket dengan motornya yang tidak lagi baru berhenti tepat di depan pintu gerbang. Seorang Ibu muda taksiran usia 30-an, nampak sehat, usai menyandarkan motor, mengucap, “Selamat siang, Pak,” dan bertanya, “Benarkah ini rumah Ibu Evita (bukan nama sebenarnya)?”
Tak seperti biasanya, “Lempar saja, Pak.” Kali ini tidak saya buang kesempatan itu untuk bersapa. Saya buka gerbangnya. Saya terima paketnya dan kepada Ibu pembawa paket itu saya ucapkan: “Terima kasih, Ibu dan terus berjuang!”
Benar, bahwa salam saya itu tidak merubah keadaan. Terik matahari tetap menyengat, dan peluh tetap membasah di wajahnya, tapi setidaknya, Ibu itu tak berkecil hati, ketika sisi roda hidupnya sedang berada di bawah. Dia akan menjalaninya dengan rasa lebih bermakna, karena tugas pengantar paket tidak ubahnya seperti pembawa kabar gembira. Ada dimensi lain dari sekedar tukang ojek.
Siapa sangka, kita juga tidak selalu tahu, bahwa Ibu itu sedang berjuang untuk keluarganya, untuk anak-anaknya dan suaminya, dan membutuhkan semangat dari kita
Seorang Pancasilais tidak perlu ke medan perang, tak perlu turun ke jalan. Cukup bukakan pintu untuk mereka yang sedang berjuang dan butuh peneguhanmu. Salam Pancasila.
Salam sehat dan tak henti berbagi cahaya untuk memberi peneguhan.
…
Jlitheng

