Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ars Longa, Vita Brevis”
(Seni itu abadi, hidup itu singkat)
…
Siapakah Sang Penyair itu?
Tulisan berlatar belakang ranah ilmu sastra dan keberanian sang penyair mewartakan kebenaran, diinspirasi oleh tulisan Novita Dewi, Opini, Kompas, Sabtu, (4/5/2024), “Penyair dan Pasca Kebenaran.”
“Apa artinya Indonesia kehilangan Chairil Anwar dan Joko Pinurbo? Keduanya tidak pernah sungguh-sungguh pergi, karena karya mereka selalu hadir dalam keseharian kita. Mereka adalah pewarta kebenaran di era pasca kebenaran (post-truth), demikian pengantar pada opini Novita Dewi.
Selanjutnya, Novita Dewi menuliskan, bahwa “Hari Puisi Nasional diperingati setiap tanggal 28 April untuk mengenang Chairil Anwar yang wafat pada tanggal tersebut, 75 tahun lalu. Tahun ini, sehari sebelum hari peringatan itu, Joko Pinurbo (Jokpin) wafat di Yogyakarta pada dini hari, dan esoknya dimakamkan bertepatan dengan hari yang dimuliakan oleh jagat sastra Indonesia.
Nafas Hidup Seni itu Abadi
Saya telah mendahului tulisan ini dengan sebuah adagium Latin, “ars longa, vita brevis” yang artinya seni itu abadi, hidup itu singkat.
Ya, nafas hidup seni itu sungguh-sungguh tidak pernah mati. Ia akan tinggal menetap abadi lewat bening bola mata yang memandang, daun telinga yang mendengar, dan gerbang nurani yang penuh harap dari dalam hati manusia.
Lihatlah kemegahan keanggunan bangunan piramida di tanah Fir’aun, Mesir. Pada alunan nan syahdu, lagu-lagu Gregorian di bukit Vatikan, dan juga pada syair-syair indah yang mampu menggetarkan nurani manusia.
Warta sang Nabi:
ars bene discendi!
Suara kebenaran penyair adalah alunan suara menggelegar nan indah dari sang penyair.
Mereka tak gentar menyuarakan tentang kebenaran, lewat spirit isi serta amanat puisi mereka.
Sarat Kritik Sosial
Chairil Anwar dan Jokpin tidak pernah sungguh-sungguh pergi, karena karya mereka selalu hadir dalam keseharian kita. Chairil adalah inspirasi yang menurut Jokpin sanggup menerabas bahasa semua kalangan, dari pejabat sampai preman, demikian tulis Novita Dewi.
Kritik sosial yang diwartakan Chairil lewat puisi berjudul, “Hukum” (1943), merawi kisah para veteran yang telantar setelah perang usai.
Juga dalam puisi Jokpin, “Pesta” (2019), dalam Perjamuan Khong Guan (Gramedia Pustaka Utama, 2020) tak kalah menyuguhkan dark humor: “Di balik demokrasi yang boros dan brutal, ada pesta pembagian doa untuk mengenang para petugas yang lembur dan mati di tempat perniagaan suara dengan honor tak seberapa.”
“Bagi Jokpin, puisi merupakan perjalanan yang tak pernah usai. Ia mencuri dan mencari. Penyair tidak boleh berhenti belajar, karena berpuisi berarti beribadah sambil bernalar,” demikian tutup Novita Dewi.
Dalam konteks refleksi, lidah lantang penyair pun bagai getar suara Nabi gurun.
Bukankah, setangkai puisi yang sungguh bermakna itu bagaikan lantang suara tentang kebenaran?
…
Kediri, 9 Mei 2924

