“Dalam tiap peristiwa keseharian, Allah menyatakan hikmat-Nya, asal kita mau membuka hati, merendah, dan mohon pertolongan rahmat-Nya.”
…
| Red-Joss.com | Sederhana, hidup ini sesungguhnya sederhana. Karena yang membuat hidup jadi rumit, ribet, dan sulit itu datang dari ego dan keinginan sendiri.
Hari ini mata hati saya dibukakan oleh Allah untuk melihat hikmat-Nya yang luar biasa. Hikmat yang mengubah hidup saya.
Tidak biasanya, pagi ini saya ke toko dengan berjalan kaki. Selain tidak jauh dari rumah, saya ingin menikmati suasana perkampungan, sambil berolahraga sehat.
Di dekat toko, saya bertemu dengan seorang lelaki tua yang menjajakan koran dengan sepeda mini. Saya tergerak menghentikan sepedanya, untuk membeli koran.
Ternyata lelaki tua itu rumahnya tidak jauh dari toko saya. Tapi yang membuat saya kagum padanya adalah semangatnya menjalani hidup!
Bagaimana tidak! Lelaki itu usianya jauh dari perkiraan saya, yakni 76 tahun!
Semula saya berpikir, lelaki tua itu wajib dikasihani, karena riskan sekali menjajakan koran di jalanan yang ramai kendaraan. Semestinya ia menikmati masa tuanya bersama cucu di rumah.
Sebenarnya ia dilarang oleh anak-anaknya. Semua kebutuhannya dicukupi. Tapi ia beralasan, profesi jualan koran itu telah digelutinya lebih dari 30 tahun. Selain untuk mengisi waktu bertemu pelanggan dan teman, ia juga ingin bersepeda sehat untuk mengisi kesibukan.
Tidak hanya itu, dengan berdagang koran ia ingin memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa merepotkan anak. Ia juga dapat memberi uang jajan pada cucunya, meski tidak banyak, dan itu suatu kebahagiaan baginya.
Sore hari, sepulang dari toko saya juga menemukan seorang Ibu yang tangguh berjualan boneka mini dari rajutan benang untuk gantungan kunci.
Ibu itu biasa berjualan mangkal di perempatan taman komplek yang cukup ramai. Yang menarik adalah, Ibu itu merajut dan menjajakan gantungan buatan sendiri. Ia ingin membantu suaminya yang belum lama di-phk. Untuk mencari kerja, pendidikannya minim dan ia sudah tua. Beruntung ia senang merajut, lalu ditekuni sebagai profesi di sela kesibukannya sebagai Ibu rumah tangga.
Dari Ibu itu saya belajar memaknai peran istri yang mau mengambil alih tanggung jawab suami, tanpa harus menyalahkan atau mencari pembenaran diri. Tapi untuk saling mengingatkan, menguatan, dan meneguhkan dalam menjalani bantera suka duka hidup berumah-tangga.
Menurut Ibu itu, jika hidup berumah-tangga dijalani ikhlas hati, maka jauh dari kemrungsung. Meski hidup sederhana, tapi keluarga tentram dan damai. Modal yang utama dan penting adalah suami istri itu harus saling menghargai, menghormati, dan mengasihi pasangannya.
Perjumpaan saya dengan Bapak penjual koran dan Ibu penjual gantungan kunci itu membuka hati ini agar kita tidak mudah menilai dan berprasangka buruk pada orang yang kurang beruntung.
Faktanya, saya melihat wajah yang cerah sumringah dan pendar mata bahagia pada mereka yang hidup seperti tanpa beban.
Rela berkorban dan menjalani hidup dengan ikhlas hati adalah sumber bahagia keluarga.
…
Mas Redjo

