| Red-Joss.com | Semua orang pernah mengalami masa sulit. Ada saat sulit, ketika kita mengalami konflik keluarga atau dengan pacar yang tidak kunjung beres. Keuangan sulit, ketika usaha makin merosot drastis akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Ada juga sulit mencari pekerjaan, meski aktif berburu kerja, tapi tidak ada yang nyantol, alias gagal dan gagal lagi.
Sesungguhnya kadar kesulitan dan cara tiap orang untuk mengatasi kesulitan itu tidak sama. Karena hal itu bergantung dari pemahaman tiap individu dalam memaknai dan menyikapi kesulitan hidup.
Begitu pula dengan kesulitan yang saya hadapi sekarang ini. Kesulitan menghadapi persaingan usaha itu berbeda dengan cara mengatasi konflik dalam berorganisasi, atau dengan keluarga.
Sebagai contoh, ketika ujian skripsi selalu ditolak dosen dan gagal, sehingga saya terpaksa mengulang dua semester. Setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan penguji, ternyata akar kegagalan saya tidak mau menuruti dosen. Saya ingin menulis skripsi yang hebat dan wow! Tapi, karena ingin cepat lulus, saya lalu mengalah dan menurut.
Ketika sulit memperoleh pekerjaan, ternyata permasalahannya adalah saya pilih pekerjaan yang eksklusif dan ingin gaji besar. Sehingga terus menerus gagal. Saya pun akhirnya mengalah, dan yang penting segera bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sekarang, saat tersulit saya adalah konflik dengan keluarga yang dipicu oleh anak lelaki saya yang condong ke calon istri dan keluarganya. Anak lebih mendengarkan kata pacarnya, ketimbang kami sebagai orangtua.
Padahal kami sekadar urun rembuk, mengingatkan, dan untuk ditinjau untung ruginya. Berkenalan belum lama, tapi anak meminta pada kami untuk segera dilamarkan. Ternyata cinta itu buta, orangtua selalu disalahkan. Kata anak, kami tidak memahami gejolak jiwa muda, dan banyak alasan lainnya.
Saya lalu berembug dengan istri, setelah anak tetap keukeh pada pendiriannya ingin cepat menikah.
Berkomunikasi dari hati ke hati itu jalan terbaik untuk menemukan titik temu. Resepnya adalah kami harus membuka hati untuk merendah, mengalah, dan memahami. Karena anak yang bakal menjalani semua itu.
Sesungguhnya, saat tersulit itu, ketika kita tidak berani menerima kenyataan. Sehingga dikalahkan oleh ego dan kesombongan sendiri. Saat yang termudah itu, ketika kita berani membuka hati dan berjiwa besar untuk memahami orang lain, dan ikhlas pada kehendak Allah.
Berdoa ikhlas, karena Allah selalu memberi yang terbaik pada umat-Nya.
…
Mas Redjo

