“+62 boleh nyinyir, namun hati dan perasaan tidak perlu baper dan getir. Just do it and let it go.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Setiap kepala itu mempunyai pendapat, pemikiran, dan pilihan sendiri. Bisa sama, bisa berbeda. Perbedaan itu tidak jadi alasan untuk membenci, mengecam, menghujat, nyinyir atau hal buruk lainnya. Namanya juga manusia, kita tidak bisa mengendalikan semua. Yang bisa dilakukan adalah mengendalikan respon kita.
Apa yang harus kita lakukan, ketika nyinyiran dan hinaan itu datang? Alkisah ada seorang pemuda yang berbeda pendapat dengan seorang guru spiritual. Karena beda pendapat, akhirnya pemuda itu kesal dan mengeluarkan kata-kata kasar. Pemuda itu meluapkan kebencian, kemarahannya kepada guru bijak itu. Sang guru hanya diam mendengarkan dengan sabar, tenang, bahkan tidak berkata sepatah kata pun.
Setelah pemuda itu pergi, murid yang melihat kejadian itu lalu bertanya kepada sang guru. “Mengapa guru diam? Kenapa guru tidak membalas makian pemuda itu?” Sang guru itu balik bertanya kepada sang murid. “Jika seseorang memberimu sesuatu dan kamu tidak mau menerimanya. Lantas milik siapakan pemberian itu?”
“Tentu milik si pemberi itu,” jawab sang murid lugas.
“Betul, begitu juga dengan kata-kata itu akan kembali kepadanya,” kata guru melanjutkan.
Begitulah setiap kebencian, cacian, umpatan, cemoohan, kemarahan, hinaan dan nyinyiran dari orang lain yang dilontarkan kepada kita. Ketika kita tidak baper dan menerimanya maka semua itu masih menjadi milik orang itu. Ibarat kita mau mengotori langit dengan ludah kita. Ludah itu malah akan mengotori kita.
Jadi jika di luar sana ada orang yang marah-marah kepada kita, biarkan saja karena mereka sedang membuang sampah dalam hatinya. Jika kita diam dan tidak baperan maka sampah itu akan kembali kepadanya. Tapi kalau ditanggapi berarti kita menerima sampah itu.
Jadilah orang yang lebih dewasa dan bijak. Zaman sekarang ada banyak orang mempunyai sampah dalam hatinya dan ingin membuang sampah itu; kekecewaan, kebencian, kemarahan, dengki, iri hati dan masih banyak hal negatif lainnya. Orang-orang itu ada di sekitar kita.
Ada saatnya dimana kita harus merespon, tapi ada saatnya lebih baik untuk dihiraukan. Kalau kita tidak mampu untuk merubahnya, peganglah hal berharga ini. Ketika kita belum bisa memberi, setidaknya jangan mengambil. Kita belum bisa membahagiakan, kita jangan membuat ia sedih. sulit menghargai, setidaknya jangan menghina. Ketika belum bisa memuji, janganlah menghujat atau mengujar kebencian. Inilah saatnya bagi kita menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

