Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ketiganya dapat menyatukan dan dapat pula saling menghancurkan.”
(Amanat Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Apa yang tergambar di dalam benak dan nurani ini, saat mendengar ucapan kata, ‘palu, paku, dan kayu?’
Apa pula yang tergambar di dalam kesadaran Anda, saat melihat sebuah kursi indah? Atau pada kokohnya sebuah peti jenazah?
Bukankah sebuah kursi indah dan sebuah peti jenazah kokoh itu merupakan perpaduan atau hasil kerja sama dari: sepotong palu, sebatang paku, dan selembar papan kayu?
Maka, dapat disimpulkan, bahwa di dalam kondisi tertentu, ketiganya dapat saling menyatukan, dan dalam kondisi lainnya, ketiganya dapat pula saling menghancurkan.
Sepotong palu, terbuat dari bahan dasar sebongkah besi baja dan sepotong kayu.
Sebatang paku, terbuat dari bahan dasar besi.
Selembar papan, terbuat dari bahan dasar sebilah kayu.
Besi, diproses dari bahan logam di dalam pabrik peleburan biji besi. Papan kayu diproses dari pepohonan di hutan belantara.
Ibarat kita, selaku makhluk manusia yang ditempa lewat suatu proses hidup. Apakah kita dapat jadi berkat ataukah sebagai kutukan bagi sesama?
Jika Anda, hanya sebagai sebatang paku, sepotong palu, dan atau hanya sebagai selembar papan; maka sejatinya kita tidak bermanfaat bagi kehidupan ini.
Kebermanfaatan hidup, hanya dapat kita peroleh, justru tatkala paku, palu, dan kayu itu dapat saling menyatu serta memberi fungsi kepada satu sama lain.
Itulah proses hidup. Sekeping kebahagiaan hidup. Juga makna kebermanfaatan dari hidup ini.
Hidup yang dipersembahkan lewat proses menyatukan dan saling meleburkan diri, sekali pun dari fungsi yang berbeda-beda.
Perbedaan itu, justru indah dan mulia, jika kita dapat saling melebur serta menyatukan.
Itulah misteri paling agung dari kedasyatan spiritualitas kebersamaan dan kebersatuan!
Ikan dari samudra biru dan asam dari gunung pun dapat menyatu dalam belanga.
Demikian pula betapa dasyat kekuatan kita, jika mampu saling melebur dan menyatu!
…
Kediri, 6 Mei 2024

