“ERIPITUR PERSONA, MANET RES
Lepaskanlah topengmu, biarlah yang asli itu nampak.” – Cicero
…
| Red-Joss.com | Dunia sekarang serba palsu. Kebaikan sering dipalsukan. Jatidiri pun ditopengi. Peredaran barang juga banyak yang KW. Dunia maya jadi ekspresi topeng dan kepalsuan. Status nampak gembira, namun hati merana terluka. Yang diposting selalu keren, padahal aslinya miskin. Foto diri juga hasil editan. Pasang status makan sana-sini, pergi ke luar negri, hung out di tempat berbintang, tapi tidak sanggup bayar tagihan.
Kalau Cicero mengatakan ‘eripitur persona, manet res’ untuk mengomentari para pejabat yang korup dan mengagungkan citra diri. Baik juga kata-kata Cicero ini untuk melihat diri kita sendiri.
Topeng, kepalsuan, editan, pamer … itulah yang diagungkan zaman now. Tampil palsu seolah dibenarkan, tapi yang asli ditinggalkan, bahkan disingkirkan. Terlihat keren lebih menyenangkan, seolah tidak pusing harus berhutang. Kartu kridit tidak terbayar tidak jadi soal, tebar pesona jadi perlombaan.
Rambut uban dipoles jadi pirang, pipi jerawatan dempul kosmetik kelewatan. Hidung pesek dibuat mancung. Perut buncit sedot lemak tidak pikir duit. Stop! Jadilah sederhana sesuai aslinya. Berdandan boleh, tapi tidak perlu berlebih. Tampil bersih dan keren boleh, tapi tidak perlu hutang. Posting apa saja boleh, tapi yang positif dan inspiratif.
Tampilkan yang asli tanpa kepalsuan, itu yang akan bertahan. Bukankah Tuhan menciptakan kita spesial dan original. Tidak ada yang sama, masing-masing unik dan istemewa. Yang menghantar hidup abadi bukan poles sana poles sini, tapi hati yang kudus dan suci.
Bukankan cantik dan tampan itu sementara, melainkan hati yang beriman, penuh harapan dan kasih itu abadi. Mendapatkan hal duniawi adalah anugerah yang harus disyukuri. Memperoleh kesuksesan itu butuh diperjuangkan. Mendapat kelimpahan materi itu perlu dibagi. Lahir sebagai orang sempurna itu perlu rendah hati. Menjadi terkenal, tenar, dan dihargai, tapi jadilah yang menginspirasi.
Syukuri, rendah hati, berbagi, perjuangkan, dan berproseslah. Jangan banyak protes, tapi berproses. Karena hidup itu bukan soal pencaoauan belaka, melainkan soal iman, harapan, dan kasih. Siapa sungguh beriman akan aman dan hidup abadi. Siapa mempunyai harapan akan menemukan dan berjalan dalam terang. Siapa yang mengasihi sesama, ia akan bersatu dengan Tuhan dalam hidup abadi.
Akangkah bijak hidup tanpa kepalsuan dan topeng. Karena yang asli itu istimewa, berharga, tahan lama dan abadi.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

