Simply da Flores
…
Wajah kota yang berdebu
mulutnya yang tengik bau busuk
dimandikan mantra bunda samudra
yang membawa doa ke langit mega
meminta guyuran air mata angkasa
Hujan senja di metropolitan
mengantar lelahnya sinar surya
berlangkah tertatih melerai polusi
Bau tengik ketamakan pun pergi
diguyur air mata keringat pedih
warna-warni perjuangan insani
Tidak terlihat pesona pelangi
Hujan senja di metropolitan
tampak aneh disertai sinar mentari
tetapi tidak terlihat pelangi
Menurut kisah nenek di kampung
alam sedang memberi tanda
ada orang terkemuka hendak wafat
dengan segala prasasti telapaknya
yang terpatri pada lembar sejarah
Hujan senja di metropolitan
menikam roda nasib kehidupan
semua pejuang rezeki kebutuhan
yang memburu angka dan kata
demi menyambung nafas keluarga
pada lintas putaran waktu
Hujan senja di metropolitan
yang membawa pesan semesta
bisa diberi aneka makna
oleh setiap pribadi yang basah
Entah pesona warna pelangi
Entah bau tengik selokan mampet
Entah aroma busuk mulut pecundang
Entah debu polusi harta dan tahta
Entah air kotor korupsi kekuasaan
Hujan senja di metropolitan
sering terjadi tak mampu ditahan
Datang diantar gemuruh guntur
dengan lenggak lenggok tarian angin
dengan pernak pernik kilau iklan
dengan gemerlap hiasan kota
Yang membius nalar dan selera
penghuni zaman siang malam
memulung nasib yang terkoyak
…

