Serpihan Jejak Musyafir – 238 Lukisan Pelangi Kematian

Simply da Flores

1.
Tentang Dukacita

Laskar air mata berlari
mengejar dan merampas jiwa
yang saatnya pergi tinggalkan raga
yang terkubur hilang lenyap
pada hamparan pasir pantai samudra

Yang siang malam hempaskan ombak.
dan menyapu kisah cerita
pada jejak langkah yang hilang
dibawa pergi ke dasar lautan
dan nanti dikembalikan ke angkasa harapan

Dukacita …
hanya buih ombak dan pasir
yang punya tanya dan jawaban
Mungkin kerlip mata bintang
yang bisa cerita pada gelombang
tentang rahasia sajak pusara

Mungkin hanya angin
yang bisa kidungkan balada
pada lara derita awan hitam
Mungkin hanya guyuran hujan
yang mampu mandikan purnama
agar bersinar terang mempesona

Mungkin hanya cahaya fajar
yang bisa melukis pelangi mekar
dalam jiwa raga para musyafir

2.
Amanah Dukacita
RIP Jokpin

Pada peti jenazahmu
masih sempat kulihat jenaka jemarimu
Tuliskan puisi singkat buat kami
“hari ini puisiku, besok sajakmu
Diamku adalah samudra kata”

Potretmu tersenyum sahaja
engkau pergi dengan bangga
karena sudah torehkan makna
pada sejarah sastra Nusantara
Diam itu Puisi
Pusara itu sajak

Yogya, 28-04-2024

3.
Ayat-Ayat Sajak di Pusara

Pusara laksana samudra
tempat berkaca angkasa raya
Setiap pelayat menulis kata
tentang fakta ketakberdayaan insani
menghadapi kodrat kematian
tentang rindu damba manusia
berdoa harapkan jawaban tanya
ke mana kelana nasib jiwa

Bunga-bunga merangkai kalimat doa
air mata menulis tanya sanubari
Bait sajak kehidupan dirangkai bersemi
memberi judul jejak prasasti
“Hari ini aku, besok engkau
Karena setiap detik nafas
adalah langkah menuju kematian
fakta kodrati insan tak terhindarkan”

Ayat-ayat sajak di pusara
ditulis semua pelayat jenazah
pada nama dan hembusan angin
tentang sejarah kehidupan pemilik pusara
tentang jejak langkah ziarah kehidupan
pada debu tanah dan udara
Agar menjadi amanah bagi generasi
dan permohonan pada Yang Ilahi

Ayat-ayat sajak di pusara
seiring bunga akan layu kering
ditelan debu tanah hening
diminum sepoi angin terbang
direnggut roda waktu melayang
ditimpa pusara baru dan hilang
Begitulah silih berganti pengalaman
antara fakta dan misteri
antara tanya dan jawaban
antara pusara dan rahim kehidupan