| Red-Joss.com | Mengambil keputusan untuk setia mengikuti Yesus itu dibutuhkan komitmen yang tegas dan kuat agar kita tidak ngos-ngosan, ketinggalan, atau salah jalan.
Tanpa komitmen yang tegas dan kuat, kita ini kosong tanpa isi. Ibarat balon yang coraknya warna-warni dan indah menawan hati. Apalagi jika ditambah dengan gambar dan tulisan-tulisan yang lucu, maka akan semakin menarik. Faktanya isi balon itu gas atau udara alias hampa.
Jika mau, kita dapat belajar dari sebuah telur. Dibandingkan dengan balon, telur itu jelas kalah cantik dan menarik. Kecil dan rentan, karena mudah pecah. Telur juga kelihatan kosong, dan tidak ada apa-apanya. Tapi tunggu dulu! Meski kelihatan kosong, tapi sebenarnya ada potensi kehidupan. Di dalamnya tersedia pelbagai kemungkinan. Bila saatnya tiba, akan muncul kehidupan dan siap untuk bertahan hidup. Dipersiapkan dengan matang dalam keheningan. Mengikuti Yesus dengan komitmen yang tegas dan kuat, ya, seperti telur. Kita disiapkan oleh keluarga (baptisan bayi) atau lewat pilihan sendiri (baptisan dewasa), diharapkan berada dalam kondisi seperti itu. Sehingga dapat terus menjaga iman dengan baik. Tidak wuss, tinggal cerita, bahwa kita pernah jadi pengikut Yesus.
Percaya kepada Allah, bagi banyak orang itu bukan persoalan. Yang jadi soal adalah, mengapa kita percaya kepada Allah dengan mengikuti Yesus Kristus = Allah yang menjadi manusia? Apa jawaban yang akan kita berikan? Karena hanya di dalam dan melalui Yesus Kristus, Ia menjadi Allah yang akrab dan dekat kita. Allah yang menyapa kita dengan bahasa yang kita mengerti. Allah yang bisa merasakan penderitaan kita, karena Dia pernah menderita. Bersama Dia, kita tidak pernah sendirian.
Jika jawaban itu belum membantu dan memuaskan, kita bisa kembangkan sendiri. Orientasi kita adalah komitmen yang tegas dan kuat dalam memotivasi diri dalam mengikuti Yesus agar kita makin mengenal dekat dan akrab dengan Yesus.
Dalam Injil ditampilkan beberapa orang, dengan inisiatif sendiri atau bahkan diminta Yesus untuk mengikuti-Nya. Tapi apa yang terjadi? Tidak ada yang lolos. Sebab terlalu banyak alasan. Ada yang kalah sebelum bertanding, tidak mempunyai tempat yang nyaman. Bahkan untuk tidur pun tak ada tempat yang tetap. Sedang yang lain, demi rasa hormat mohon untuk dapat mendampingi orangtua sampai hari tuanya. Kalau sudah beres, baru bergabung. Alasan yang dibuat-buat alias menolak. Yang terakhir, mohon restu dari orangtua. Sangat sopan dan bisa disebut sebagai pemuda/i yang baik. Tapi, jika tergantung pada orang lain, kapan dewasa? Kesimpulannya, mereka tidak layak. Motivasi mereka tidak kuat. Sehingga dapat dipastikan hasilnya tidak maksimal alias sia-sia dan malah merepotkan.
Jika dalam hidup, kita telah menentukan Yesus sebagai sumber dan pusat hidup, jalani semua itu sebaik-baiknya. Menerima Yesus, tapi hidup dalam tuntutan-Nya yang belum maksimal. Bagaimana maksimal, jika berdoa atau pergi ke Gereja itu sering menunda, tidak serius, dan setengah hati.
Alangkah bijak, jika membiasakan memeriksa diri ini, berefleksi dengan jujur dan teliti. “Apakah kita sungguh mengikuti Yesus? Apakah di antara kesibukkan yang seabrek-ini, kita masih merindukan Allah?” Seperti mata ada untuk melihat dan tangan untuk meraba, kita ada untuk apa? Untuk mencari, menemukan dan akhirnya menyatu dengan Allah. Untuk mencapainya dibutuhkan motivasi yang kuat untuk hasil yang maksimal.
“Kuberikan hati ini untuk mengasihi dan mengampuni. Aku ulurkan tangan ini untuk melayani.”
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

