| Red-Joss.com | Meski tubuh ini diikat dalam penjara, tapi tidak berarti mampu memenjarakan pikiran ini. Pikiran ini senantiasa bebas merdeka, kecuali datang dari anugerah Allah agar kita sadar diri untuk berserah ikhlas pada kehendak-Nya.
Realita itu mengusik hati nurani dan mencerahkan pikiranku.
Romo sepuh itu tersenyum bijak. Memahami. Tutur kata nan lembut itu menukik tajam dalam kesadaran jiwaku yang terlena dalam egoisme. Bertukar pikiran yang memberi kelegaan di hati dan menenangkan jiwa.
Tampaknya semua itu baik, karena telah peroleh izin dari istri dan keluarga. Ternyata sebenarnya aku ingin melarikan diri dari kenyataan itu.
Keinginanku untuk menjadi seorang pendoa bermula, ketika mengikuti retreat di biara trapis. Aku tertarik dengan kehidupan disiplin mereka dalam keheningan. Rutinitas doa dan hidup keseharian mereka dengan warga itu bagai nyanyian jiwa yang selaras, merdu, dan damai.
“Semua hanya sawang sinawang. Karena kebahagiaan sejati itu ada dalam pikiran kita sendiri.“
Ternyata aku ingin menjadi pendoa, karena nafsu sesaat, melihat yang tampak. Aku tidak mau menukik di kedalaman hati.
Hidup dalam hening, tapi pikiran dalam keramain.
Si jahat telah menawarkan suatu hal yang tampak baik, membius, dan menyeretku pada pemahaman yang keliru, dan itu perbuatan dosa, jika diikuti.
“Bahwa sesungguhnya, apa yang telah disatukan oleh Allah jangan diceraikan oleh manusia.”
Meski tidak menceraikan, tapi aku ingin memisahkan diri dari istri, dan melupakan tujuan perkawinan suci. Aku melupakan tanggung jawab sebagai suami dan Ayah bagi anak-anaknya. Juga bertanggung jawab pada Allah yang anugerahi hidup ini agar kita memaknainya.
Jauhi kesombongan dan seberapa banyak materi yang disiapkan bagi mereka, tapi kebahagiaan sejati itu ada dalam Ekaristi Kudus agar kita mewujudkan teladan-Nya secara nyata.
Doa-doa itu jadi nyata, ketika kita wujudkan ke dalam realita.
Cinta kasih itu jadi nyata, ketika kita rela berkorban dan ikhlas hati bagi orang-orang yang dikasihi.
“Menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti-Nya” adalah persembahan terindah hidup bahagia.
…
Mas Redjo

