Simply da Flores
1.
Hari Puisi Nasional
Kata-kata itu samudra
Ayat-ayat sajak ombak gelombang
menari-nari siang dan malam
Menyambut sampah kehidupan
yang terus dibuang manusia
termasuk di Indonesia tercinta
yang membudayakan sampah dan puisi
Hari Puisi Nasional
entah untuk apa dan siapa
Penyair selalu terlahir
seperti pemulung
memungut kata dari samudra
diramu jadi santapan pasir pantai
Puisi terus bertambah tercipta
entah bertambah atau tidak pembacanya
Puisi seperti sampah di samudra
terus bertambah memenuhi peradaban
Hari Puisi Nasional
dirayakan pemulung dan pengepul
Tarian ombak gelombang zaman
merayakan sampah generasi bangsa
yang diproduksi selera rasa
yang mainkan nikmat kekuasaan
yang diputar roda ketamakan
dengan angka dan kata
Tulisan sajak di kertas putih
Karya puisi di media digital
sering dihindari laksana sampah
Puisi dan sampah sahabat pemulung
tidak banyak yang kagum menyanjung
Seperti gelombang tinggi arus samudra
hanya bagi nelayan, penyelam, pelaut dan peselancar
2.
Puisi Abadi Samudra Raya
Rakyat jelata sahaja
adalah kertas hamparan pasir pantai
Setiap hari siang malam
samudra menggerakkan jemari tangan
menuliskan deburan kata-kata aneh
pada wajah sahaja pasir
agar menjadi ayat bait sajak lestari
agar menjadi karya puisi abadi
Angin berlari mengejar waktu
membaca makna puisi biru
goresan samudera yang galau
Karena terus dibanjiri sampah manusia
melalui muara sungai seleranya
dari kapal pengembaraan rasanya
dari tangan kotor berdarahnya
dari berbagai pertempuran ambisinya
Perjuangan meramu tanya jiwa raga
di tengah derap roda zamannya
Puisi abadi samudra raya
adalah sajak angkasa nirwana
yang sajikan kata mantra semesta
dengan bulan bintang bercahaya
pada sanubari jiwa manusia
agar tidak membenci gulita
agar bersahabat dengan senandung mega
agar pandai mengukir jejak langkah
agar bisa memaknai fakta semesta
yang tertulis pada harkat martabatnya
Puisi abadi samudra raya
adalah senyum ikan hiu dan teri
yang menari dalam gelombang arus
yang harmoni dengan denting petir halilintar
yang serasi bernyanyi ikuti irama burung
dan gurauan udang kepiting
kepada jeritan lara nelayan kampung
Puisi abadi samudera raya
mencatat jejak langkah manusia
yang sering menginjak nasib sesama
tanpa rasa bersalah dan berdosa
sambil memakai topeng dan rajin berdoa
agar diakui taat saleh beragama

