Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tidak ada musuh yang abadi, karena yang abadi itu
hanya kepentingan.”
(Adagium Pragmatis)
Hari itu, Jumat, 26/4/2024, dalam kolom Opini, harian Kompas, diturunkan sebuah tulisan berjudul, “Politik Bunglon,” (surat kepada pembaca), oleh Sri Handoko, Tugurejo, Semarang.
Seperti biasa, hati ini terenyuh, bahkan sempat berdenyut keras, jika membaca tulisan yang sifatnya sesaat serta serba pragmatis.
Degupan cemas ini, seolah mau berkata, jika memang demikian, ke mana arah phinisi anak bangsa perkasa ini hendak berlayar?
Pragmatisme adalah sebuah aliran dalam ilmu filsafat yang cenderung memandang segala sesuatu hanya dari aspek pragmatis belaka.
Jika boleh diuji dan dikritisi, kita dapat mengajukan sebuah pertanyaan, di mana letak ketulusan dan kejujuran nurani para politisi kita dalam berpolitik yang serba praktis bahkan bagaikan kutu loncat ini?
Apa orientasi mereka di dalam berpolitik? Apa yang hendak dicapai oleh para politisi kita lewat parpol?
Bunglon, binatang reptilia yang punya keistimewaan mengubah warna kulit tubuhnya dan akan menyerupai warna daun di sekitarnya. Perubahan warna ini disebut mimikri, demikian pengantar tulisan saudara Sri Handoko.
Para bijaksanawan juga mungkin akan mengajukan pertanyaan kesal, “Di manakah para politisi ala bunglon ini akan menaruh wajahnya. Masih adakah urat malu di atas kerutan kening munafik mereka?”
Hal yang justru tampak aneh serta kekanak-kanakan, bahwa di saat kampanye mereka saling menyerang dan saling memaki, tapi seketika, dengan mulut manis dan wajah ala bunglon mereka segera saling merangkul dan bahkan seia sekata akan bersama berlayar.
Kata mereka, bahwa semua ini demi kemaslahatan serta rekonsiliasi antar anak bangsa.
Tentu sang waktu yang akan mengisahkan tentang kesejatian arah dan tujuan perahu phinisi anak bangsa ini.
Sesungguhnya, kejujuran sejati adalah akar dan dahan serta carang dari sebuah kesejatian nan abadi.
Pragmatisme adalah sebuah upaya sekadar cari gampang dan nyaman.
Kediri, 30 April 2024

