Tidak ada penyesalan yang datang terlambat. Karena yang terlambat itu hati yang kehilangan rasa peduli untuk perbaiki diri, dan jadi baik.
“Pak, Bu, boleh aku tinggal sama Mbah Putri. Kasihan Mbah sendiri.”
“Lho, kau kan sekolah…”
“Sekolah bisa pindah. Lagian dari rumah Mbah jalan kaki juga dekat.”
Kata-kata putrinya yang polos dan lugu itu menohok hati pasangan muda itu, karena putrinya tidak mau diajak pulang!
“Besok main ke rumah Mbah lagi,” hibur Mbah Putri sambil mengelus kepala cucunya yang sekolah di TK Kecil itu dengan lembut.
“Ndak mau, aku mau nemeni Mbah. Bagaimana kalo Mbah sakit?”
Untuk yang kesekian kali pasangan muda itu terdiam, beradu pandang, dan perasaan juga jadi tak karuan.
Terngiang kembali ucapan Ayah sebelum berpulang, “Le, kau boleh marah pada Bapak, tapi jangan sekali-kali kau marahi Ibumu, meski ia salah. Tapi coba kau belajar untuk memahaminya.”
Karena hubungan ditentang oleh orangtua, ia jadi nekat kabur dari rumah untuk menikahi gadis itu, meski tidak direstui!
Semula ia berpikir, dengan lahirnya buah hati, Ibu mau menerima dan memaafkannya. Ternyata istrinya keukeh tidak mau diajak menengok orangtuanya dengan segudang alasan. Ia terjepit di tengah, dan jadi serba salah. Jika kangen dan ingin menengok orangtua, ia hanya ditemani putri semata wayangnya itu.
Ketika istrinya mau diajak serta menengok Ibu yang tinggal sendiri, karena Ayah berpulang setahun lalu, putrinya bicara nerocos yang mengharubirukan perasaannya!
Tiba-tiba hukum tabur tuai yang sering diwejangkan Bapak seperti menampar kesadarannya, hingga terjaga dari mimpi buruk.
“Bagaimana, jika kelak anakku melakukan hal itu? Bukankah aku memetik buah dari pohon yang kutanam sendiri?”
Ya, ia harus berani bersikap tegas memberi pengertian pada istrinya. Selagi Ibu masih sehat. Ia tidak mau membuang kesempatan baik itu, dan menyesal bekakangan.
Digenggamnya tangan istrinya yang juga gemetar. Ia tatap lembut matanya memberi isyarat.
“Adik mau sekolah di sini? Lalu Bapak Ibu gimana?”
“Bapak Ibu, ya, menemani Mbah. Mau ya…?” Anak itu lalu memegang tangan Mbah Putri. “Boleh ya, Mbah, kalau Bapak Ibu di sini…?”
Mbah Putri mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
“Boleh Pak, Ibu…” serunya gembira.
Tanpa dikomando pasangan muda itu lalu sujud di depan wanita baya itu.
Keharuan merebak dalam tangis bahagia.
Mas Redjo

