Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ibu, kau simpan di mana
celana lucu yang kupakai
waktu bayi dulu.”
(Penyair Joko Pinurbo)
Saat istimewa itu, hari Minggu, (28/4/2024), dalam harian Kompas diturunkan sebuah tulisan khusus mengenang Penyair Flamboyan, Joko Pinurbo (Jokpin), yang wafat pada Sabtu, (27/4/2024) dan dikuburkan pada hari Minggu, (28/4)2024) tepat pada Hari Puisi Nasional.
Saya cermat membaca dan menelusuri tulisan spesial itu. Saya, akhirnya lebih mengenal almarhum sebagai Penyair besar dari bangsa berbudaya ini.
Betapa tidak, karena almarhum, justru telah menulis paling tidak 20 ontologi puisi yang unik yang akhirnya sempat mendorong banyak penyair muda kita untuk mulai berkiprah di dunia perpuisian Nasional.
Salah satu ontologi puisinya yang berjudul, “Celana I” (1996), ditulis untuk membicarakan kerinduan seorang anak kepada Ibu, demikian Haris Firdaus, dkk.
Berikut, sepenggal puisinya dari ontologi berjudul Celana I itu.
Lalu ia ngacir / tanpa celana / dan berkelana / mencari kubur ibunya / hanya untuk menanyakan / “Ibu, kau simpan di mana celana lucu / yang kupakai waktu bayi dulu?”
Membaca dan mencermati penggalan puisi yang terkesan usil serta melucu ini, “nurani dan pikiran saya mulai mengembara” sangat jauh.
Ke mana arah dan tujuan pengembaraan nurani itu? Ya, ke dalam diriku sendiri. Menukik dan menghujam jauh ke dalam kesadaran terdalam sanubariku.
Mengapa? Karena apakah hanya sesimpel dan sesederhana itukah pertanyaan anak kepada Bundanya?
Jika Penyair humanis yang menghembuskan nafasnya pada usia 61 tahun itu, hanya menanyakan, satu hal kecil kepada sang Bunda, berarti masih ada dan tersisa “seribu satu hal” yang belum sempat ditanyakan, bukan?
Lewat tulisan refleksi dan memori ini, hal-hal apa yang hendak Anda dan saya ajukan kepada sang Bunda?
Almarhum (Jokpin) sudah membantu kita lewat sebuah hal kecil, soal celana kecil yang dikenakan di masa bayi.
Lalu, hal-hal apa yang hendak kita tanyakan pada saat ini?
Tentang cinta dan kasih sayang atau kebencian serta rindu kita?
Tentang pelukan dan ciuman hangat membara yang telah dipersembahkan kepada kita?
Tentang berapa banyak jumlah piring nasi dan lauk pauknya?
Tentang limpahan bimbingan dan asuhan yang telah dihembuskan ke atas ubun-ubun kepala kita?
Ataukah juga tentang sekeping wajah dan dada meringis di kala sang Bunda mencoba untuk menahan duka?
Sungguh Bunda,
betapa luas, mendalam, serta bermaknanya kasih sayangmu kepada kami.
Semoga Bunda,
kelak di saat menjelang kematian, kami pun akan mencoba untuk mengenang keagungan kasihmu kepada semesta ini.
Sebungguhnya, ternyata di dalam hidup yang singkat ini, sesama kita juga dapat menjadi seorang guru sejati bagi kita.
Lewat karya dan jasa agung mereka, kita dapat menemukan serta memahami, apa makna sejati dari hidup ini!
Kediri, 29 April 2024

