Untuk kesekian kalinya, saya hanya tersenyum datar tidak menanggapi saran, permintaan, maupun nasihat teman. Untuk apa?
Jujur, saya yakin seyakinnya, bahwa tulisan saya tidak layak dibukukan, alias diterbitkan!
Bagaimana tidak? Karena tulisan saya kurang, bahkan tidak diminati banyak orang. Saya juga dituduh sok pintar, menggurui, dan sederet sok lainnya lagi.
Semua itu tidak membuat saya jadi berkecil hati, tapi sadar diri. Bahwa sesungguhnya saya harus banyak belajar dan berlatih menulis agar tema bahasan makin bervariasi dan lancar. Hal-hal baik dan positif itu makin bermakna, ketika dihidupi dengan tindakan nyata.
Pengalaman ditolak oleh komunitas sendiri itu mengingatkan saya agar sadar diri, bahwa sesungguhnya hal yang wajar, jika seorang nabi ditolak di kampungnya sendiri.
Apalagi saya adalah bukan siapa-siapa. Minim pendidikan, bahkan masa lalu saya juga tidak jelas dan dari rakyat kebanyakan.
Sadar diri, karena tidak layak, saya juga tidak mau meninggalkan jejak di bumi ini, kecuali perbuatan baik. Sekaligus, menegaskan saya dalam doa persembahan: “Ya Tuhan, saya tidak pantas. Tuhan datang pada saya. Tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”
Merasa tidak layak itu pula, saya ingin dilupakan agar saya menjalani hidup ini dengan puji syukur dan ikhlas hati.
Sesungguhnya yang abadi di bumi ini adalah kebaikan, karena milik-Nya.
“Hendaknya hidup dalam Tuhan agar kita berbuah. Tapi yang hidup di luar Tuhan akan menjadi ranting kering yang tiada guna.”
Mas Redjo

