| Red-Joss.com | Akan lebih bijak berusaha mencukupkan diri dalam aneka keadaan, daripada memaksakan diri untuk memenuhi semua keinginan.
Me-maksa-kan diri menjadi awal godaan yang dibakar oleh rasa cemburu pada sesama.
Godaan itu tidak terelakkan dari kehidupan setiap kita. Tapi Gembala telah jadi panutan: ‘say no* terhadap godaan. Minggata, setan!
Kemarin (Kamis) mobil yang saya kendarai (betul-betul) ditabrak dari belakang.
Penabrak: (muda belia, mobil baru, putih bersih, bonyok kiri depan karena nabrak, enggan turun).
Mau turun, ketika polantas memintanya turun.
Penabrak: “Berapa harus saya bayar?”
Ah, di kepalanya sudah tertanam semua perkara selesai dengan uang.
(Batin). Kebetulan saya sedang butuh uang, urgent. “Ambil saja, Pak,” ujar orang muda yang kebetulan lewat (Dua jenis godaan, dari dalam dan dari luar).
Godaan itu nyata. Muncul saat ada yang mendesak, tampil masuk akal, wajar, dan ada peluang.
Kuasa doa itu juga nyata. Di akhir doa pagiku selalu begini “libera me amalo,” bebaskanlah hari ini dari godaan. Maka tanpa ragu saya katakan: “Tidak usah!”saya salami penabrak itu, lalu pergi.
Janji Allah juga pasti nyata, membèntèngi: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu mendapat berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan” (Yakobus 1: 2-3).
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

