| Red-Joss.com | Buah pikiran dan buah hati ini saya tuliskan khusus untuk para Ibu bekerja demi keluarga dan untuk mereka yang oleh kondisi tertentu harus berhenti kerja (sementara sampai ada solusi lebih ok), sebagai ungkapan keberpihakan hati dan apresiasi yang dalam.
Bermimpi adalah bagian dari kodrat manusia yang tak mengenal jenis kelamin, siapa pun boleh bermimpi. Karier adalah impian, seperti yang diimpikan Srikandi, bukan nama sebenarnya, seorang Ibu muda yang awalnya juga berperan sebagai Ibu bekerja.
Srikandi berhenti bekerja (baca: sementara) oleh satu kondisi yang seolah tak memberinya pilihan. Tapi ia memilih yang terbaik (untuk kondisinya pada saat itu).
Kisahnya (mungkin banyak yang serupa) sebagai berikut :
Dulu saya dan ayahnya anak-anak sibuk bekerja. Berangkat pagi pulang malam. Mereka (dua anak kami) tumbuh bersama Embak yang berganti ganti terus dan akhirnya membuat si anak merasa tidak dicintai (dan ini benar benar ‘kakak’ katakan waktu kelas 4 SD bilang ke saya, “Mama, kenapa aku dilahirin, kalau aku cuma ditinggal- tinggal. Aku kesepian, Embak ngga mau temenin aku. Embak temenin lala terus (adiknya)…” Anaknya bicara seperti itu sambil menjeduk- jedukkan kepala ke tembok) dan dia kehilangan rasa percaya diri. Akhirnya idealisme dan ambisi untuk jadi wanita karir saya runtuhkan juga, sebelum semuanya memburuk…
Tidak mudah mengambil keputusan itu, katanya. Selain tak sedikit yang mencibir, peran Ibu rumah tangga kerap dianggap remeh. Seorang perempuan yang memilih untuk menjadi Ibu rumah tangga dinilai kurang ‘kekinian’ lantaran tidak memanfaatkan waktunya untuk sesuatu yang produktif.
Ketika Ibu bekerja, sibuk berkarya mengukir prestasi, Ibu rumah tangga dianggap hanya duduk terpaku dengan beragam urusan domestik yang harus ditangani. Padahal, nyatanya tidaklah demikian. Ada begitu banyak pergumulan emosi yang harus dikelola dengan cerdas dan kreatif, banyak prioritas yang harus ditetapkan dan keputusan-keputusan yang harus diambil, seorang diri
Semoga, di tengah penat yang sering tak terlihat dan dilihat, para Ibu rumah tangga ini tidak kehilangan mimpinya, mendapatkan bimbingan dari Gusti Allah dan sanggup menciptakan solusi yang berbuah rezeki. ‘Kuliner’, misalnya.
Salam sehat dan tetap berbagi cahaya, terlihat atau tidak.
…
Jlitheng

