“Balance is key of life.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Hidup itu harus seimbang, jika tidak seimbang berarti ada yang salah dengan kita. Tapi kadang dalam pengalaman hidup bukan hanya soal hidup yang seimbang, melainkan hidup adalah soal kepenuhan. Karena hidup itu tidak pernah akan seimbang.
Masing-masing orang mempunyai definisi berbeda tentang seimbang dalam hidup. Kamus bahasa Indonesia sendiri mengartikan keseimbangan. Seimbang bukan hanya soal prosentase, takaran. Seimbang lebih soal prioritas, keputusan, dan pemaknaan.
Alkisah ada seorang pemuda yang galau akan hidupnya. Ia lalu pergi kepada orang bijak. Sesampai di rumah orang bijak itu, ia kagum melihat keindahan dan kerapian sekitar rumah. Saking kagumnya saat berjumpa dengan orang bijak itu ia langsung bertanya, “Bagaimana bisa guru mempunyai taman dan tanaman yang amat indah itu.”
Orang bijak itu menyilahkan pemuda itu berkeliling untuk menikmati keindahan halaman rumah. Sebelumnya, ia memberi segelas susu pada pemuda itu dan berpesan agar menjaga susu ini agar tidak tumpah selama berkeliling rumah.
Setelah berkeliling, orang bijak itu bertanya kepada pemuda itu. “Bagaimana indah dan sejuk, bukan?” Pemuda itu menjawab, bahwa ia tidak bisa menikmati dan melihat keindahan rumah. Karena harus fokus menjaga gelas susu itu agar tidak tumpah.
Orang bijak itu meminta pemuda itu untuk berkeliling sekali lagi dengan tetap membawa segelas susu, sambil menikmati dan melihat keindahan sekitar rumah. Ketika selesai ia lalu bercerita banyak hal tanpa ditanya oleh orang bijak itu. Tapi susu yang ada di gelas itu tinggal sedikit, karena tumpah.
Fokus menjaga kesimbangan kadang membuat kita tidak bahagia dan tak bisa memaknai hidup. “Life is not about balance, but about fulfiled life.” Kalau kita mempunyai waktu 24 jam itu tidak berarti 30% di sini, 30% di situ, dan 30% di sana.
Keseimbangan adalah tentang tanggung jawab. Seorang Ibu yang mempunyai anak, keseimbangan itu mungkin bisa 80% hidupnya untuk bersama anaknya. Itulah fokusnya. Seimbang itu tidak soal terbagi rata, tapi soal memaknai dan mengisi hidup.
Hidup itu bukan soal kerja, di rumah, istirahat, ibadah, dan nongkrong bersama temen. Bukan soal berikutnya, dan berikutnya lagi. Tapi soal kita mengisi dan memaknai hidup.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

