| Red-Joss.com | “Untuk apa kita mempunyai rumah mewah dan memiliki halaman luas, jika suasana rumah itu gersang dan sunyi. Lebih baik mempunyai rumah sederhana, Le, tapi hangat dipenuhi cinta,” alasan Bapak, ketika saya menanyakan, kenapa tidak membeli rumah sahabatnya yang hendak pindah ke Amerika untuk mengikuti anaknya. Padahal rumah itu dijual butuh dan murah.
“Rumah besar di pinggir jalan itu kesannya memisahkan diri dari tetangga, dan individualis. Enak di kampung, Le. Kita akrab, guyup dan rukun.”
Saya diam, tapi menyayangkan hal itu. Karena rumah sahabat Bapak itu juga ada kolam renangnya, dan wow!
Seiring perjalanan sang waktu, saya memahami, bahwa Bapak sungguh membiasakan hidup sederhana dan mandiri pada keluarganya. Meski usaha Bapak maju.
“Membangun rohani keluarga itu lebih utama dan penting, ketimbang kita mempunyai rumah mewah, tapi gersang dan sunyi,” kata-kata itu selalu diulangi Bapak setiap ada kesempatan.
Tidak sekadar bicara, tapi Bapak juga mewujudkan lewat tindakan. Sejak kecil, Bapak mengajak kami untuk membiasakan diri dengan peduli dan berbagi pada sesama. Caranya agar kami belajar memberi dari uang saku sendiri.
Dari Bapak pula akhirnya saya memahami. Bahwa sesungguhnya rumah mewah atau tampilan orang itu tidak lebih sebagai aksesoris. Lebih utama dan penting itu hati yang didadani lewat perbuatan baik dan positif agar kita layak di hadapan-Nya.
Sesungguhnya, hakikat sembayang itu tidak sebatas pada ritualnya, tapi lebih utama dan penting adalah untuk membangun spriritual jiwa umat beriman. Hidup untuk memuliakan Allah.
…
Mas Redjo

