Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mereka seolah-olah sedang melintas di atas bara api sambil memikul beban deritanya sendiri.”
(Amanat Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Ada sebuah ucapan klasik yang mau mendeskripsikan kekaguman atas kekokohan dan kerelaan seseorang dalam memikul beban hidupnya.
Kekokohan sikap batin itu dideskripsikan, ia seolah-olah sedang melintas di atas bara api sambil memikul beban berat.
Sungguh nyata di dalam hidup ini, bahwa ternyata, ada juga orang yang sungguh kokoh dan teguh bertahan dalam memikul beban deritanya.
Di sisi yang lain, ternyata tidak sedikit orang yang melarikan diri alias tidak bertanggung jawab, karena merasa tidak sanggup menahan beban derita hidupnya.
Misalnya, kisah janda yang telah membuktikannya. Si sulung yang rela memikul beban derita sejak ditinggal mati kedua orangtuanya. Ada juga mahasiswa perantau yang sukses studinya, walau pun hanya belajar di bawah cahaya lampu listrik jalan.
Ada tiga kelompok manusia yang mewakili sejumlah pribadi yang ternyata dan terbukti mampu, bahkan rela memikul beban hidup.
Ada seorang janda dengan tiga orang anak kecil berusia 9, 7, 5 tahun ditinggal pergi oleh suami ke perantauan dan ternyata, dia tak pernah kembali.
Sembilan tahun berikutnya, si sulung akhirnya dapat bekerja, setamat dari SMK. Dia bertekad untuk membiayai adiknya yang masih duduk di bangku SMK. Sang Ibu itu akhirnya fokus untuk merawat si bungsu.
Juga kisah si sulung, yang akibat perceraian kedua orangtuanya, dia bertekad untuk membesarkan seorang adiknya yang saat itu duduk di bangku SD. Kelak sang adik itu akhirnya diterima dan bekerja di sebuah koperasi simpan pinjam setamat dari bangku SMK.
Sedang kisah ketiga, mahasiswa itu yang sanggup bertahan menderita sebagai mahasiswa di sebuah kota. Kisah ini saya peroleh dari sambutan spontan seorang Bupati yang baru dilantik di sebuah Kabupaten. Beliau mengisahkan, bahwa betapa menderita dia di saat berkuliah, karena keterbatasan biaya kuliah dan kos. Maka, sering dia belajar di bawah sinar lampu jalan kota.
Kisah haru dari ketiga sosok manusia ini menunjukkan, bahwa di balik suatu keberhasilan, ternyata mereka melewati kepahitan dan penderitaan.
Apa misteri paling agung dari balik keberhasilan ini? Apa rahasia sukses mereka?
Sang bijaksanawan berujar, bahwa tak ada kesuksesan yang diraih tanpa pengorbanan. Tak ada jalan pintas di atas bumi maya ini!
Apa pun yang kita raih, capai, dan yang kita peroleh itu semuanya hanya lewat pintu perjuangan. Pengorbanan lewat gerbang penderitaan.
Di balik dan di dalam sana, terdapat misteri tekad sekeping hati yang membara, kerja keras tanpa lelah, dan derita berurai air mata.
Lewat misteri bara api cinta sejati dan tekad membara yang sanggup meneguhkan dan mengokohkan langkah-langkah mereka menuju kesuksesan dalam hidup.
Sesungguhnya, kekuatan sejati manusia itu justru terletak di dalam sikap kerelaan, tekad membara di dada, dan kemauan tulus untuk berkorban!
…
Kediri, 25 April 2024

